Puisi: Bekas Lubang Paku (Karya Afrizal Malna)

Puisi “Bekas Lubang Paku” bercerita tentang tubuh sebagai tempat terjadinya penulisan, kenangan, dan luka. Dalam metafora "puisi tertulis di ...
Bekas Lubang Paku

Aku ingin menemui lagi tubuhmu. Karena puisi tertulis di bahumu. Seperti bekas lubang paku. Tak berjudul. Tak tahu siapa yang menulisnya, dan menanamkan lubang paku di dalamnya. Tertulis, aku akan mengambil diriku sendiri. Tertulis, aku menari dalam pakaian yang kehilangan dirinya sendiri. Dan terbaca juga, penyanyi yang menghilang dalam mikrofon kesunyian.

Satu matahari menjadi dua matahari. Mereka bergantian menatapku, antara lubang dan paku, antara memanggil dan mengusirku. Tertulis lagi, tentang kesehatan dan bau tembakau di sela-sela jarimu. Aku ingin membacanya, tata cara melepas kematian dari sebuah ciuman.

Bau waktu dari lubang bekas paku di bahumu.

Lubangnya telah tertutup oleh lubang yang lain.

Aku masih terseret oleh gigiku yang goyah, sebelum paku itu lepas dari lubangnya. Di bahumu, tertulis tubuh yang menyala. Api yang memadamkan ingatannya tentang kesunyian dan tentang berjalan.

Aku berteriak untuk mendengar suaramu. Tertulis. Aku menjerit untuk mendengar langkahmu, tertulis, berjatuhan dan membuat jalan untuk pergi. Di bahumu, cinta dan kesunyian tak pernah bersengketa, tentang puisi yang meninggalkan kata-kata. Di bahumu ... paku ... telur setengah matang ...

Puisi yang meracuni bahasa dan kenangan.

Sumber: Museum Penghancur Dokumen (2013)

Analisis Puisi:

Afrizal Malna bukanlah penyair yang menulis dengan “aturan”. Puisinya kerap menolak struktur linear, mengguncang makna konvensional, dan menciptakan suasana liminal antara tubuh, benda-benda, bahasa, dan dunia. Salah satu puisinya yang menghantui adalah “Bekas Lubang Paku”—sebuah puisi yang tampak seperti serpihan kenangan, potongan mimpi, dan pengakuan diam yang tertanam di sepasang bahu.

Meski tampak sulit ditafsirkan secara harfiah, puisi ini bercerita tentang tubuh sebagai tempat terjadinya penulisan, kenangan, dan luka. Dalam metafora "puisi tertulis di bahumu" dan "bekas lubang paku", tubuh digambarkan sebagai medium yang menyimpan sejarah yang tak kasatmata. Tubuh bukan hanya benda biologis, melainkan arsip perasaan, trauma, dan cinta yang pernah ada—yang bahkan penulisnya pun tak diketahui.

Melalui baris seperti “aku ingin menemui lagi tubuhmu” dan “puisi yang meracuni bahasa dan kenangan”, pembaca diajak masuk ke sebuah perjalanan yang tidak menawarkan kepastian, melainkan sensasi: bahwa cinta, kehilangan, dan bahasa tidak selalu bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Tema: Tubuh, Ingatan, dan Bahasa sebagai Ruang Luka

Tema utama dalam puisi ini adalah tubuh sebagai arsip luka dan bahasa sebagai pengkhianat ingatan. Bekas lubang paku di bahu menjadi simbol dari luka permanen—mungkin fisik, mungkin emosional—yang menjadi bagian tak terhapus dari seseorang. Dalam tubuh itu tertulis puisi, namun puisi itu bukan puisi biasa. Ia tak berjudul, tak jelas siapa penulisnya, dan isinya adalah penggalan-penggalan kesadaran dan absurditas.

Tema lainnya adalah cinta dan kehilangan, yang berpadu tanpa konflik, seperti diucapkan dalam baris: “Di bahumu, cinta dan kesunyian tak pernah bersengketa.” Puisi ini berbicara tentang penerimaan terhadap absurditas kehidupan dan bagaimana kenangan bisa tertanam di tubuh layaknya paku yang menembus dinding.

Makna Tersirat: Tubuh sebagai Medium Eksistensi dan Trauma

Makna tersirat dalam puisi ini menyentuh persoalan identitas dan eksistensi. Tubuh menjadi tempat puisi ditulis, tetapi juga menjadi tempat luka mengendap. Lubang paku bukan sekadar simbol luka fisik—ia juga bisa dimaknai sebagai luka batin, trauma masa lalu, atau jejak cinta yang ditinggalkan. Kata-kata seperti “aku menari dalam pakaian yang kehilangan dirinya sendiri” menunjukkan alienasi identitas: tubuh dan bahasa yang sudah tak sinkron, kehilangan orientasi.

Afrizal seolah ingin berkata: dalam hidup, kita semua adalah tubuh-tubuh yang pernah dipakukan oleh pengalaman dan kenangan—dan mungkin tak pernah bisa benar-benar membacanya hingga tuntas.

Suasana dalam Puisi: Sunyi, Surealis, dan Penuh Ketegangan Psikologis

Suasana dalam puisi ini sangat intim, namun kabur; sunyi, namun penuh bisikan rasa. Ada nuansa surealis yang kuat, seperti dunia mimpi yang setengah terbuka. Baris “satu matahari menjadi dua matahari” menciptakan suasana ilusi, seperti dunia terbelah antara kenyataan dan halusinasi. Ketegangan muncul dari pertarungan batin tokohnya—antara ingin mendekat dan ingin melepaskan, antara ingin membaca dan ingin melupakan.

Amanat / Pesan: Tidak Semua Luka Bisa Dijelaskan, Tapi Bisa Dirasakan

Jika puisi ini ingin menyampaikan satu pesan, mungkin ia berbunyi seperti ini:

"Tidak semua luka memiliki penjelasan, tetapi setiap luka meninggalkan bentuk, rasa, dan bayangan dalam hidup kita."

Puisi ini tidak menggurui, tetapi menyarankan bahwa bahasa bisa menjadi racun, kenangan bisa menjadi paku, dan tubuh bisa menjadi lembar puisi yang tak pernah selesai ditulis. Ia juga mengajak pembaca untuk menerima bahwa kesunyian dan cinta bukan musuh, tapi bisa berjalan berdampingan.

Imaji: Paku, Bahu, Matahari Ganda, Gigi Goyah, dan Telur Setengah Matang

Afrizal dikenal sebagai penyair yang menyulap benda-benda keseharian menjadi simbol imaji puitis yang kuat dan tak biasa. Dalam puisi ini, kita menemukan:
  • Paku dan lubangnya → imaji utama yang menjadi pusat gravitasi puisi
  • Bahu → bagian tubuh yang menjadi ‘kanvas’ bagi puisi dan luka
  • Matahari ganda → gambaran surealis yang menyiratkan gangguan persepsi atau tekanan batin
  • Gigi goyah → simbol kerentanan tubuh dan eksistensi
  • Telur setengah matang → imaji absurd, yang menambah lapisan absurditas dan ketidaktuntasan
Semua imaji ini hadir tak untuk dijelaskan secara logis, tetapi untuk dirasakan seperti fragmen-fragmen mimpi.

Majas: Metafora, Paradoks, Personifikasi

Puisi ini kaya akan majas, terutama:
  • Metafora, seperti dalam “puisi tertulis di bahumu” dan “api yang memadamkan ingatannya”
  • Paradoks, seperti “satu matahari menjadi dua” dan “pakaian yang kehilangan dirinya sendiri”
  • Personifikasi, ketika puisi dianggap memiliki kemampuan meninggalkan kata-kata, atau ketika tubuh dianggap mampu menyala dan menulis sendiri.
Majas dalam puisi ini bukan hiasan, tetapi tulang punggung dari cara puisi ini hidup dan bergerak.

Sebuah Meditasi Puitik tentang Tubuh, Luka, dan Bahasa

Puisi “Bekas Lubang Paku” bukan puisi yang mudah didekati. Ia seperti lorong sempit yang tidak punya pintu keluar, tetapi penuh bayangan dan gema yang berbicara dari dinding. Melalui simbol paku, bahu, dan tulisan-tulisan misterius, Afrizal Malna menciptakan pengalaman membaca yang lebih bersifat eksistensial daripada naratif.

Puisi ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: “Luka mana yang sedang kutulis di tubuhku hari ini? Dan siapa yang menuliskannya?”

Puisi Afrizal Malna
Puisi: Bekas Lubang Paku
Karya: Afrizal Malna

Biodata Afrizal Malna:
  • Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.