Analisis Puisi:
Puisi "Terkenang Ibu" karya Gunoto Saparie adalah sebuah karya yang menggambarkan kenangan mendalam seorang anak terhadap sosok ibunya. Puisi ini penuh dengan emosi yang kuat, mengangkat tema kasih sayang, perjuangan, dan ketulusan seorang ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kenangan dan penghormatan terhadap ibu. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan tema ketulusan, pengorbanan, dan cinta seorang ibu yang tidak lekang oleh waktu. Dalam setiap baitnya, tergambar bagaimana seorang ibu menjalani hidup dengan kesederhanaan, kerja keras, serta ketakwaan.
Makna Tersirat
Puisi ini mengandung makna yang dalam tentang perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Beberapa makna tersirat yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Kesederhanaan dan perjuangan hidup – Digambarkan melalui ibu yang memasak dengan tungku kayu bakar dan menggunakan peralatan sederhana seperti cobek batu.
- Keteguhan dalam beribadah – Ibu dalam puisi ini tidak hanya bekerja keras untuk keluarganya tetapi juga menjalankan ibadah dengan tekun, seperti terlihat dalam bait yang menggambarkan ibu salat tengah malam dan berdoa dengan penuh khusyuk.
- Kehidupan dan kematian – Puisi ini juga menyiratkan refleksi tentang perjalanan hidup, di mana ibu menyadari kedekatan antara rumah dan makam, yang melambangkan perenungan akan kehidupan yang fana.
Puisi ini bercerita tentang kenangan seorang anak terhadap ibunya, yang dikenang melalui berbagai aktivitas sehari-hari seperti memasak, membuat sambal, beribadah, dan merenungkan kehidupan. Puisi ini tidak hanya sekadar menggambarkan kejadian-kejadian tersebut, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sosok ibu menjadi simbol kekuatan, kasih sayang, dan spiritualitas dalam kehidupan seorang anak.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis dan penuh kerinduan. Penyair menghadirkan gambaran masa lalu dengan perasaan yang kuat, menciptakan suasana yang nostalgik dan haru. Setiap baitnya membawa pembaca untuk ikut merasakan kehangatan kenangan dan kesedihan akan sosok ibu yang begitu berharga.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang membangkitkan berbagai indera, di antaranya:
- Imaji visual: "ibu memasak di dapur dengan tungku pakai kayu bakar," menciptakan gambaran rumah yang sederhana dan penuh kehangatan.
- Imaji penciuman: "ada warna hangus dan bau sangit," menggambarkan aroma khas dari dapur tradisional.
- Imaji rasa: "berpadu amis terasi, asin garam, juga pedas lombok," menghadirkan sensasi rasa yang kuat dan khas dalam makanan buatan ibu.
- Imaji auditori: "ibu menadahkan tangan, menangis dan berdoa sepanjang malam," menghadirkan suara tangis dan doa yang menyentuh hati.
Majas
Puisi ini juga menggunakan beberapa majas yang memperkuat makna dan estetika bahasanya, seperti:
- Metafora: "betapa panjang titian shiratal mustaqim" melambangkan perjalanan kehidupan dan kematian.
- Personifikasi: "o, Tuhan yang tampak," seolah-olah Tuhan bisa dilihat secara langsung, menekankan kedekatan spiritual yang mendalam.
- Repetisi: Pengulangan kata "aku terkenang ibu" dalam setiap bait memperkuat nuansa nostalgia dan rindu yang mendalam.
Puisi "Terkenang Ibu" adalah karya yang menggambarkan kasih sayang dan perjuangan seorang ibu dengan penuh emosi. Gunoto Saparie berhasil menghadirkan kenangan yang begitu nyata melalui berbagai imaji dan suasana yang menyentuh hati. Puisi ini tidak hanya sebagai ungkapan kerinduan kepada ibu, tetapi juga sebagai pengingat akan ketulusan dan pengorbanan seorang ibu dalam kehidupan anak-anaknya.
Karya: Gunoto Saparie
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang) dan Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.