Analisis Puisi:
Puisi "Tanah Air" karya Gunoto Saparie mengangkat tema nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. Penyair menegaskan bahwa tanah air bukan sekadar tempat lahir dan mati, tetapi juga sumber inspirasi, identitas, dan kebanggaan bagi dirinya.
Makna Tersirat
Puisi ini mengandung makna tersirat tentang kesetiaan dan kecintaan seseorang terhadap tanah airnya. Penyair ingin menegaskan bahwa ia bukan pengembara yang melupakan akar budayanya, melainkan seorang anak bangsa yang selalu mencintai negeri ini, baik dalam kehidupan maupun setelah meninggal dunia.
Puisi ini bercerita tentang rasa cinta mendalam terhadap Indonesia sebagai tanah kelahiran dan tempat bernaung. Penyair mengungkapkan keinginannya untuk tetap menjadi bagian dari tanah airnya hingga akhir hayat, serta menggambarkan keindahan alam Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa penuh kebanggaan dan keteguhan hati. Penyair menggambarkan keindahan negeri dengan sungai, gunung, laut, dan langit yang memberikan rasa damai dan syukur terhadap tanah airnya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa tanah air adalah bagian dari identitas diri yang harus dicintai dan dijaga. Penyair mengajak pembaca untuk tidak melupakan asal-usul dan selalu berkontribusi bagi negeri. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah yang harus disyukuri dan dihormati.
Imaji
- Imaji Visual: "sungai, gunung, dan hutan / udara, laut, dan langit lazuardi" → menggambarkan keindahan alam Indonesia secara nyata di benak pembaca.
- Imaji Perasaan: "aku bukan lagi pengembara / anak hilang durhaka tak kembali" → menggambarkan rasa kesetiaan dan keinginan untuk tetap bersama tanah air.
Majas
- Majas Metafora: "tanah air, sumber ilham para penyair" → tanah air digambarkan sebagai sumber inspirasi bagi para seniman dan pencipta karya sastra.
- Majas Personifikasi: "aku tak alpa pada ibu pertiwi" → tanah air digambarkan seperti seorang ibu yang memberikan kasih sayang dan perlindungan.
Puisi "Tanah Air" karya Gunoto Saparie adalah ungkapan cinta mendalam terhadap Indonesia. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, penyair menegaskan bahwa tanah air bukan hanya tempat lahir dan tinggal, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan yang harus dijaga. Melalui puisi ini, kita diajak untuk selalu mencintai negeri sendiri dan menyadari bahwa Indonesia adalah anugerah yang harus disyukuri serta dijaga keindahannya.
Karya: Gunoto Saparie
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019).
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi dan cerita pendeknya termuat dalam antologi bersama para penyair lain. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Ia pernah mencoba peruntungan menjadi calon anggota legislatif DPRD Jawa Tengah melalui Partai Golkar dan Partai Nasdem, tetapi gagal. Bahkan ia sempat menjadi calon Wakil Bupati Kendal dari Partai Golkar, namun gagal pula. Kini ia menikmati masa tuanya dengan membaca dan menulis.