Puisi: Tamu Tengah Malam (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Tamu Tengah Malam" karya Gunoto Saparie bercerita tentang seorang tokoh yang mengalami ketakutan saat ada tamu yang mengetuk pintu di tengah ..
Tamu Tengah Malam

siapakah mengetuk pintu 
pada setugal malam?
siapakah takkenal waktu
bertamu saat lingsir kelam?

aku taktunggu siapa-siapa
namun aku risau, "jangan-jangan…"
aku taktunggu engkau, ya tuan
baiknya hadir besok siang saja

siapakah mengetuk pintu?
siapakah mengetuk kalbu?
lamun aku taksiap menerimamu
cemas pun menjelma menjadi lelatu

lama aku tersaruk tanpa dian
berselimut kabut dan kedinginan
siapa pun engkau, janganlah datang
jangan tuhan, o, mengungkai bimbang

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Tamu Tengah Malam" karya Gunoto Saparie mengangkat tema ketakutan dan kecemasan terhadap hal yang tidak terduga, yang bisa diartikan sebagai kematian, takdir, atau kejadian misterius yang mendatangi manusia tanpa bisa ditolak.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini mengacu pada rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, kemungkinan tentang kematian atau peristiwa besar yang akan terjadi dalam hidup seseorang. Penyair mengungkapkan kegelisahan terhadap tamu yang datang tanpa diundang pada waktu yang tidak wajar, yang bisa menjadi metafora dari nasib yang tak dapat dihindari.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang mengalami ketakutan saat ada tamu yang mengetuk pintu di tengah malam. Tokoh tersebut tidak menunggu siapa pun, tetapi kehadiran tamu misterius itu menimbulkan kecemasan dan ketidakpastian dalam dirinya. Ia merasa belum siap menerima tamu tersebut, yang mungkin merupakan lambang dari sesuatu yang lebih besar, seperti kematian atau perubahan hidup yang tak terhindarkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa mencekam, penuh ketakutan, dan misterius. Malam yang gelap, ketukan pintu yang tidak diharapkan, serta kecemasan tokoh dalam puisi membuat pembaca merasakan ketegangan dan kebingungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyiratkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dihindari, seperti kematian atau takdir, tetapi sering kali manusia merasa takut dan tidak siap menerimanya. Penyair ingin menyampaikan bahwa ketidakpastian dan ketakutan adalah bagian dari kehidupan, dan setiap manusia pada akhirnya harus menghadapinya.

Imaji

  • Imaji Pendengaran: "siapakah mengetuk pintu?" → pembaca bisa membayangkan suara ketukan yang mengganggu keheningan malam.
  • Imaji Perasaan: "cemas pun menjelma menjadi lelatu" → kecemasan digambarkan begitu nyata hingga terasa seperti api kecil yang membakar perasaan.
  • Imaji Visual: "berselimut kabut dan kedinginan" → memberikan gambaran suasana malam yang suram, dingin, dan penuh misteri.

Majas

  • Majas Personifikasi: "siapakah mengetuk kalbu?" → seolah-olah hati manusia bisa diketuk layaknya sebuah pintu.
  • Majas Metafora: "cemas pun menjelma menjadi lelatu" → kecemasan diibaratkan seperti api kecil yang membakar perasaan.
  • Majas Alegori: Keseluruhan puisi ini bisa diartikan sebagai alegori tentang kematian atau takdir yang datang tanpa bisa dihindari.
Puisi "Tamu Tengah Malam" karya Gunoto Saparie menyajikan gambaran ketakutan manusia terhadap sesuatu yang tak pasti, seperti kematian atau nasib yang tak terhindarkan. Dengan bahasa yang penuh simbol dan metafora, puisi ini menggambarkan suasana mencekam serta kegelisahan batin seseorang yang belum siap menghadapi sesuatu yang akan datang. Pesan dari puisi ini adalah bahwa ketidakpastian dan rasa takut adalah bagian dari kehidupan, dan pada akhirnya manusia harus menghadapinya dengan kesiapan dan keberanian.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Tamu Tengah Malam
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019).

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.