Analisis Puisi:
Puisi "Kwatrin Buat Ibu" karya Gunoto Saparie merupakan salah satu puisi yang menyentuh perasaan dan menggambarkan hubungan emosional antara seorang anak dengan ibunya. Dalam bentuk kwatrin, yang terdiri dari empat baris, puisi ini memadatkan makna yang dalam mengenai kehilangan dan kerinduan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kehilangan dan kerinduan seorang anak terhadap ibunya yang telah tiada. Puisi ini menggambarkan perasaan duka yang mendalam namun tetap diiringi dengan kenangan manis tentang sang ibu.
Makna Tersirat
Di balik kata-kata yang sederhana, puisi ini menyiratkan bahwa meskipun seseorang yang kita cintai telah tiada, kenangan dan kasih sayangnya tetap hidup di dalam hati. Mata yang teduh dari ibu yang telah pergi masih teringat jelas dalam benak sang penyair, dan kerinduan yang dirasakan menjadi sumber inspirasi atau ragi bagi kehidupan penyair.
Puisi ini bercerita tentang momen kepergian seorang ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sang anak, dalam hal ini penyair, masih merasakan kehangatan kenangan bersama ibunya meskipun kini ia telah pergi. Puisi ini menggambarkan suasana kehilangan yang mendalam tetapi tetap mengandung penghormatan kepada sosok ibu.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengajarkan bahwa kehilangan seseorang yang dicintai, khususnya ibu, adalah bagian dari kehidupan yang harus diterima dengan ikhlas. Namun, kenangan dan kasih sayang dari ibu akan selalu menjadi pengingat dan penyemangat bagi anak yang ditinggalkan.
Majas
Dalam puisi ini, terdapat beberapa majas yang digunakan untuk memperkuat makna, seperti:
- Majas Metafora, misalnya dalam kata "rindu penyair jadi ragi", yang menggambarkan bahwa kerinduan terhadap ibu menjadi sesuatu yang menguatkan dan menginspirasi dalam kehidupan penyair.
- Majas Personifikasi, terlihat dalam frasa "teduh matamu kuingat" yang menggambarkan mata sebagai sesuatu yang dapat memberikan keteduhan, seolah-olah memiliki sifat manusia.
Puisi "Kwatrin Buat Ibu" adalah puisi yang singkat namun penuh makna. Dengan kata-kata sederhana tetapi mendalam, Gunoto Saparie berhasil menggambarkan kehilangan, kenangan, dan kasih sayang seorang anak terhadap ibunya yang telah tiada.
Karya: Gunoto Saparie
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.