Analisis Puisi:
Puisi "Jejak Gerimis" Karya Gunoto Saparie memiliki tema kerinduan, hasrat, dan refleksi perasaan dalam kesunyian malam. Penyair menggambarkan suasana menjelang subuh dengan gerimis yang meninggalkan jejak, menciptakan nuansa romantis sekaligus melankolis.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah perasaan mendalam yang terus membekas, baik dalam bentuk kenangan, kerinduan, maupun hasrat yang tak pernah padam. Jejak gerimis bisa menjadi simbol dari emosi yang tersisa setelah momen tertentu, sedangkan syahwat yang "tak pernah sudah" menunjukkan keinginan yang terus berlanjut.
Puisi ini bercerita tentang sebuah momen dalam keheningan malam menjelang subuh, di mana seorang tokoh merasakan kehadiran gerimis dan mengenang sesuatu yang mungkin berkaitan dengan cinta atau hasrat.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini memiliki suasana syahdu, romantis, dan sedikit melankolis. Gambaran gerimis, kabut yang luruh, serta suasana malam menuju subuh memberikan kesan tenang tetapi penuh perasaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyiratkan bahwa perasaan manusia, baik dalam bentuk cinta, hasrat, atau kenangan, sering kali terus berlanjut meskipun waktu berlalu.
Imaji
- Imaji Visual: "jejak gerimis di rambutmu basah", memberikan gambaran nyata tentang hujan yang membasahi seseorang.
- Imaji Taktis: "kabut pun luruh", menggambarkan sensasi dingin dan lembutnya kabut yang jatuh.
- Imaji Auditori: "malam merayap menuju subuh", menciptakan kesan kesunyian dan perubahan waktu yang bisa dirasakan.
Majas
- Majas Personifikasi: "malam merayap menuju subuh", malam seolah memiliki kemampuan untuk bergerak perlahan.
- Majas Metafora: "jejak gerimis", dapat diartikan sebagai bekas kenangan atau perasaan yang tertinggal.
- Majas Hiperbola: "syahwat memang tak pernah sudah", menekankan bahwa keinginan atau hasrat itu terus ada tanpa henti.
Puisi "Jejak Gerimis" karya Gunoto Saparie adalah puisi pendek yang penuh makna, menggambarkan suasana malam yang tenang tetapi menyimpan emosi yang dalam. Dengan penggunaan bahasa yang puitis, penyair menghadirkan kesan romantis, reflektif, dan sedikit melankolis. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang perasaan yang tetap ada meskipun waktu terus berjalan.
Karya: Gunoto Saparie
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.