Puisi: Hujan (Karya Fitri Yani)

Puisi "Hujan" karya Fitri Yani menangkap momen-momen kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sentuhan alam, cuaca, dan kepolosan seorang ...
Hujan

langit mulai tua
sepasang burung melintas
entah menuju kemana
di sebuah jendela
seorang bocah memandang angkasa
menatap dan menyimpan suaraku
—yang riang berjatuhan.

Juni, 2012

Sumber: Lampung Post (26 Agustus 2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Hujan" karya Fitri Yani adalah karya yang singkat namun memikat, menggambarkan momen-momen sederhana saat hujan turun. Dengan menggunakan elemen-elemen alam dan pengamatan sehari-hari, puisi ini berhasil menyampaikan atmosfer dan keindahan dalam suatu momen.

Gambaran Alam dan Cuaca

  • Langit Mulai Tua: Gambaran langit yang tua menandakan awal turunnya hujan. Ini menciptakan suasana haru dan meresapi momen yang akan datang.
  • Sepasang Burung Melintas: Burung yang melintas di langit menciptakan citra keindahan dan harmoni alam. Pemandangan ini memperkaya nuansa puisi dengan elemen kehidupan dan gerakan di langit.

Pengamatan Seorang Bocah

  • Bocah yang Memandang Angkasa: Puisi memberikan fokus pada seorang bocah yang sedang memandang langit. Pengamatan bocah ini menciptakan perspektif penyair yang mungkin mencerminkan kepolosan dan keingintahuan terhadap alam.

Menghadirkan Suara dalam Puisi

  • Menyimpan Suara Riangan: Puisi menyebutkan penyimpanan "suara riangan." Hal ini bisa diartikan sebagai kemampuan penyair untuk meresapi momen kebahagiaan, keceriaan, atau mungkin kenangan riang dalam suatu kejadian.

Keindahan yang Sederhana

  • Entah Menuju Kemana: Ungkapan "entah menuju kemana" menciptakan rasa misteri dan keindahan dalam kebebasan gerak burung. Hal ini mengajak pembaca untuk merenung dan menemukan keindahan dalam ketidakpastian.

Simbolisme Hujan

  • Hujan Sebagai Simbol Pembersihan: Meskipun hujan tidak secara eksplisit disebutkan, suasana langit tua dan mungkin burung melintas sebagai pertanda bahwa hujan akan turun. Hujan dalam puisi sering kali diartikan sebagai simbol pembersihan dan kehidupan baru.
Puisi "Hujan" menciptakan suasana yang sederhana namun dalam, menangkap momen-momen kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sentuhan alam, cuaca, dan kepolosan seorang bocah, Fitri Yani berhasil merangkai kata-kata untuk menggambarkan keindahan dan keajaiban dalam setiap detik kehidupan.

Fitri Yani
Puisi: Hujan
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Orang-Orang Modern sahabatku, dari tengah kota ini akan kuceritakan tentang orang-orang yang dulu merubuhkan rumah-rumah panggung lalu membangun gedung-gedung bert…
  • Di Stasiun Kereta aku tak mungkin pulang kepadamu mengenang tamasya, asmaraloka atau sekadar membenarkan kerah kemejamu aku gagal mencari nama pemberian ayah di p…
  • Jakarta pelepah subuh terbelah  menyentak  di pusar jantung  hingga  ke palung-palung ke balik gunung  bergaung.  rajah nasib&nbs…
  • Sungai "hidup adalah cerita yang tak habis-habis" ujar sungai yang alirannya begitu tenang batu-batu yang menyimpan kesetiaan hanya diam sambil membenarkan "p…
  • Penjahit dan Kainnya peristiwa yang saya alami ini, tuanku bukanlah rasa gembira sepasang remaja  yang menjalin benang-benang asmara  di dada mereka b…
  • Benang Merah bulan berwarna merah, terpantul di wajah kolam malam ini ia memikirkanmu; di dalam pikirannya kau duduk di pelataran menikmati segelas teh dan sore …
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.