Gerimis Senja Sepanjang Jalan
Gerimis senja sepanjang jalan, gerimis
rinyai mempersenja cuaca, mempersenyap kota
ada suara-suara letihku yang tersisa mengalir berat
menyelinapkan diri dalam angin lewat, antara
tiang-tiang jalanan dan bangunan-bangunan megah
ada langkah kaki yang terayun pelan, tertegun-tegun.
Di jalan-jalan hanya sesekali deru kendaraan
sementara lembab udara tambah mempersepi kota
ada segala yang mengendap ke dalam, memperesah dada
yang jenuh uap-uap gema. Rinduku pun merendah
atas ruang-ruang kamar kembali. Barangkali tak ada
yang menanti akan tetapi percakapan itu masih juga
adalah keasyikan diam, percakapan sunyi yang selalu
tak kunjung selesai dalam hati, dalam diriku.
Dari diri sendiri, dari sana segala sesuatunya bermula
dan akan lengkap tersudahkan, sedang di luarnya
senantiasa diriku asing dan sibuk berpaling-paling.
Ada kecewa, dan kecewa itulah yang akan menahan bising
suara sekeliling, suara-suara yang selalu asing
merapat tegak dalam batas ketidak-acuhan
yang angkuh dan keras, tegak dan kukuh mendinding.
Aduhai Yogya, keluhku terbata-bata, kenapa
engkau demikian sunyi senantiasa, demikian tua
demikian anggun, demikian lamban namun tinggi harga
menjadi sedemikian rupa sehingga berangkat enggan kusapa.
Yogyakarta, Maret 1970
Sumber: Horison (Juli, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Gerimis Senja Sepanjang Jalan" karya Ragil Suwarna Pragolapati mengangkat tema kesunyian, keterasingan, dan perenungan dalam kota yang sepi. Penyair menggambarkan suasana senja yang gerimis, memperkuat kesan keterasingan dan kehampaan dalam diri tokoh yang mengalami pergulatan batin.
Makna Tersirat
Puisi ini menyiratkan perasaan kesepian, keterasingan, dan refleksi terhadap kehidupan serta kota yang terasa semakin asing. Tokoh dalam puisi merasakan kehampaan dalam suasana kota yang lambat dan sunyi, seolah mencerminkan kondisi batinnya yang penuh kekecewaan dan keresahan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan di tengah gerimis senja, merasakan sunyi yang mengendap dalam kota, serta merenungkan makna kehidupannya. Ia merasa dunia di sekelilingnya menjadi semakin asing dan menjauh, membuatnya tenggelam dalam percakapan batin yang tak kunjung usai.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini muram, sendu, dan penuh kesunyian. Gambaran gerimis, jalanan sepi, serta kota yang terasa lamban dan tua menciptakan kesan keterasingan yang mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan bahwa kesepian dan keterasingan sering kali berasal dari dalam diri sendiri. Kota yang sunyi bukan semata karena keadaan luar, tetapi juga karena batin seseorang yang merasa hampa dan kecewa. Selain itu, puisi ini juga mencerminkan bahwa perpisahan dan perubahan adalah hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan.
Imaji
- Imaji Visual: "Gerimis senja sepanjang jalan, gerimis rinyai mempersenja cuaca, mempersenyap kota." → menggambarkan suasana senja yang basah, redup, dan sunyi.
- Imaji Auditori: "Di jalan-jalan hanya sesekali deru kendaraan" → menciptakan kesan keheningan yang hanya sesekali dipecah oleh suara kendaraan yang berlalu.
- Imaji Perasaan: "Ada kecewa, dan kecewa itulah yang akan menahan bising suara sekeliling" → mempertegas suasana batin yang penuh kesedihan dan kehampaan.
Majas
- Majas Personifikasi: "Gerimis rinyai mempersenja cuaca, mempersenyap kota." → Gerimis digambarkan seolah memiliki kemampuan untuk memperkuat kesenyapan kota.
- Majas Metafora: "Percakapan sunyi yang selalu tak kunjung selesai dalam hati." → Sunyi disamakan dengan percakapan batin yang terus berulang tanpa jawaban.
- Majas Repetisi: "Ada kecewa, dan kecewa itulah yang akan menahan bising." → Pengulangan kata kecewa menegaskan rasa sedih dan keterasingan yang dirasakan tokoh dalam puisi.
Puisi "Gerimis Senja Sepanjang Jalan" karya Ragil Suwarna Pragolapati adalah gambaran tentang kesepian dan keterasingan di tengah kota yang lamban dan sunyi. Melalui penggunaan imaji gerimis, kesunyian kota, dan percakapan batin yang tak kunjung usai, penyair berhasil menciptakan suasana muram yang menggambarkan perenungan dan kekecewaan terhadap kehidupan. Puisi ini memberikan pesan bahwa kesepian bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari batin yang tak menemukan tempat untuk kembali.
Karya: Ragil Suwarna Pragolapati
Biodata Ragil Suwarna Pragolapati:
- Ragil Suwarna Pragolapati lahir di Pati, pada tanggal 22 Januari 1948.
- Ragil Suwarna Pragolapati dinyatakan menghilang di Parangtritis, Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober 1990.
- Ragil Suwarna Pragolapati menghilang saat pergi bersemadi ke Gunung Semar. Dalam perjalanan pulang dari kaki Gunung Semar menuju Gua Langse (beliau berjalan di belakang murid-muridnya) tiba-tiba menghilang. Awalnya murid-muridnya menganggap hal tersebut sebagai kejadian biasa karena orang sakti lumrah bisa menghilang. Namun, setelah tiga hari tiga malam tidak kunjung pulang dan dicari ke mana-mana tidak diketemukan. Tidak jelas keberadaannya sampai sekarang, apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.
- Dikutip dari Leksikon Susastra Indonesia (2000), pada masa awal Orde Baru, Ragil Suwarna Pragolapati pernah ditahan tanpa proses pengadilan karena melakukan demonstrasi.
- Ragil Suwarna Pragolapati sering terlibat dalam aksi protes. Berikut beberapa aksi yang pernah diikuti: Menggugat Mashuri, S.H., Menteri PK, 1968. Memprotes Pemda Yogya, kasus Judi, 1968. Menggugat manipulasi dan korupsi, 1970-1971. Aksi memprotes Golkarisasi, 1970-1972. Memprotes Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 1971-1972. Aksi menggugat SPP, 1971-1972. Aksi menolak televisi warna, 1971-1973. Aksi menolak komoditas Jepang, 1971-1974. Protes breidel pers 1977-1978.