Puisi: Di Negeri Khatulistiwa (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Di Negeri Khatulistiwa" karya Gunoto Saparie bercerita tentang renungan seorang penyair terhadap keadaan negeri khatulistiwa (Indonesia).
Di Negeri Khatulistiwa

di negeri khatulistiwa
aku tersesat di sebuah buku tua
yang kehilangan angka dan aksara
pustaka pun kehilangan cahaya

mampukah aku menyelamatkan harapan
dari virus yang makin menggila?
mampukah aku menulis dan membaca
tanda-tanda kebangkrutan kebudayaan?

di negeri khatulistiwa yang sunyi
kuziarahi jejak-jejak para wali
kucari ilmu, cinta, dan makrifat
hidup hanya menuju kubur keramat

ketika ombak berdebur ke pantai 
ketika sejuk angin pegunungan sepoi
kuresapi makna indonesia di dalam jiwa
dengan bahagia dan derita menyatu di nusantara

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Di Negeri Khatulistiwa" Karya Gunoto Saparie mengangkat tema kebudayaan, identitas, dan refleksi kehidupan di Indonesia. Penyair menggambarkan kondisi negeri ini melalui perumpamaan tentang buku tua yang kehilangan aksara dan tanda-tanda kebangkrutan kebudayaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah keprihatinan terhadap kondisi budaya dan intelektual di Indonesia, di mana harapan terasa semakin pudar di tengah tantangan zaman. Penyair juga mengisyaratkan pencarian makna hidup melalui perjalanan spiritual dan sejarah, dengan merujuk pada jejak para wali dan pemaknaan terhadap kehidupan di Nusantara.

Puisi ini bercerita tentang renungan seorang penyair terhadap keadaan negeri khatulistiwa (Indonesia). Ia menggambarkan betapa budaya dan literasi mulai tergerus, lalu mempertanyakan apakah dirinya masih mampu menyelamatkan harapan di tengah tantangan zaman. Puisi ini juga menyiratkan perjalanan pencarian makna hidup dengan mengunjungi jejak para wali serta memahami kebahagiaan dan penderitaan yang menyatu dalam kehidupan di Indonesia.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini memiliki suasana reflektif, melankolis, tetapi juga penuh perenungan. Ada nuansa keprihatinan terhadap kondisi kebudayaan, tetapi juga ketenangan saat penyair merenungkan makna hidup di negeri khatulistiwa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa budaya, ilmu, dan literasi harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Selain itu, ada ajakan untuk merenungi makna hidup serta memahami kebahagiaan dan penderitaan yang menjadi bagian dari perjalanan di Nusantara.

Imaji

  • Imaji Visual: "buku tua yang kehilangan angka dan aksara", menggambarkan kondisi budaya yang mulai luntur.
  • Imaji Auditori: "ketika ombak berdebur ke pantai", memberikan kesan ketenangan sekaligus refleksi.
  • Imaji Kinestetik: "kuziarahi jejak-jejak para wali", menggambarkan perjalanan spiritual dalam pencarian makna hidup.

Majas

  • Majas Metafora: "buku tua yang kehilangan angka dan aksara", menggambarkan kebudayaan dan literasi yang mulai hilang.
  • Majas Personifikasi: "pustaka pun kehilangan cahaya", seolah-olah pustaka bisa kehilangan sinarnya, yang melambangkan hilangnya ilmu dan kebijaksanaan.
  • Majas Retoris: "mampukah aku menyelamatkan harapan dari virus yang makin menggila?", pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban langsung tetapi mengajak pembaca untuk berpikir.
Puisi "Di Negeri Khatulistiwa" karya Gunoto Saparie adalah refleksi mendalam tentang kondisi kebudayaan, pencarian makna hidup, dan identitas bangsa. Penyair mengajak pembaca untuk merenungi keadaan literasi dan kebudayaan yang mulai luntur serta pentingnya menjaga ilmu dan nilai-nilai kehidupan. Dengan bahasa yang kaya akan imaji dan simbolisme, puisi ini menggambarkan perjalanan intelektual dan spiritual dalam memahami Indonesia dan kehidupan itu sendiri.

Puisi: Di Negeri Khatulistiwa
Puisi: Di Negeri Khatulistiwa
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.