Puisi: Aku Berduka atas Matinya Kita (Karya Ehfrem Vyzty)

Puisi "Aku Berduka atas Matinya Kita" karya Ehfrem Vyzty bercerita tentang seorang tokoh yang merasakan kesedihan mendalam akibat berakhirnya suatu ..

Aku Berduka atas Matinya Kita


Sepenggal luka masih deras mengeluarkan darah-darah
pada kepala
Sejuta dendam masih setia menikam rindu 
atas kenangan-kenangan dalam dada

Bagaimana mungkin kita bertamu pada temu
Sementara kau sibuk menambal ego yang membatu 
dengan benang-benang kusut penuh duri dalam diri

Aku sudah menjelma dingin angin
Membiarkanmu baring di atas awan-awan kusam
penuh kehancuran cinta yang kau selipkan di bawah hujan

Hari ini kita benar-benar mati 
Kita tidak lagi hidup pada satu nyawa
Kita tidak lebih dari sekadar bulan yang bermimpi
merangkul matahari di langit lepas

"Aku tetap berduka atas matinya kita di bawah semesta"

2025

Analisis Puisi:

Puisi "Aku Berduka atas Matinya Kita" karya Ehfrem Vyzty mengangkat tema perpisahan dan kehancuran hubungan. Puisi ini mencerminkan rasa kehilangan yang mendalam, diiringi dengan emosi luka dan dendam yang belum usai.

Makna Tersirat

Puisi ini menyiratkan bahwa hubungan yang telah mati tidak hanya sebatas perpisahan fisik, tetapi juga kematian emosional dan spiritual antara dua orang. Ketika ego menghalangi rekonsiliasi dan rasa sakit terus tumbuh, maka hubungan tersebut tidak lagi bisa diselamatkan.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang merasakan kesedihan mendalam akibat berakhirnya suatu hubungan. Kenangan-kenangan masih menyisakan luka, namun pertemuan kembali terasa mustahil karena adanya kebekuan hati dan ego yang menghalangi. Akhirnya, hubungan yang pernah ada benar-benar mati, seperti bulan yang bermimpi merangkul matahari—sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana muram, penuh luka, dan bernuansa duka mendalam. Perasaan kehilangan begitu kuat, seolah-olah hubungan tersebut benar-benar telah mati dan tidak bisa dihidupkan kembali.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini mengingatkan bahwa ego dan luka yang terus dipelihara dapat menghancurkan hubungan. Perpisahan terkadang bukan hanya tentang dua orang yang berpisah secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana hati dan jiwa mereka tidak lagi saling terhubung.

Imaji

  • Imaji Visual: "Sepenggal luka masih deras mengeluarkan darah-darah pada kepala" → menggambarkan luka emosional yang seolah-olah tampak nyata secara fisik.
  • Imaji Perasaan: "Aku sudah menjelma dingin angin" → menunjukkan bagaimana tokoh dalam puisi menjadi hampa dan kehilangan perasaan.
  • Imaji Auditori: "Sejuta dendam masih setia menikam rindu atas kenangan-kenangan dalam dada" → menggambarkan rindu yang menyakitkan, seolah terdengar dalam hati.

Majas

  • Majas Metafora: "Aku sudah menjelma dingin angin" → menggambarkan kehilangan emosi dan perasaan. "Kita tidak lebih dari sekadar bulan yang bermimpi merangkul matahari di langit lepas" → menggambarkan harapan yang mustahil.
  • Majas Personifikasi: "Sejuta dendam masih setia menikam rindu" → dendam digambarkan seperti sesuatu yang bisa menikam.
  • Majas Hiperbola: "Sepenggal luka masih deras mengeluarkan darah-darah pada kepala" → melebih-lebihkan rasa sakit emosional seolah-olah terlihat secara fisik.
Puisi "Aku Berduka atas Matinya Kita" karya Ehfrem Vyzty adalah refleksi mendalam tentang kehilangan, ego, dan perpisahan yang menyakitkan. Dengan bahasa yang penuh metafora dan imaji yang kuat, puisi ini menggambarkan bagaimana hubungan bisa mati bukan hanya karena jarak, tetapi juga karena hati yang tidak lagi bisa bertemu. Pesan yang bisa diambil adalah bahwa tanpa keterbukaan dan keikhlasan, sebuah hubungan bisa berakhir dalam kehancuran dan duka yang mendalam.

Ehfrem Vyzty
Puisi: Aku Berduka atas Matinya Kita
Karya: Ehfrem Vyzty

Biodata Ehfrem Vyzty:
  • Ehfrem Vyzty lahir pada tanggal 9 Juni 2003 di Manggarai, Flores, NTT.
  • Ehfrem Vyzty pernah mengikuti lomba cipta puisi di berbagai media dan telah mendapatkan sertifikat sebagai penulis terbaik. Beberapa puisi maupun cerpennya telah dibukukan.
  • Ehfrem Vyzty merupakan siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, NTT.
  • Buku perdananya bertajuk “Melukismu dalam Aksara” telah diterbitkan beberapa waktu yang lalu oleh penerbit JSI. Buku berikutnya akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Soneta Merah Jambu Dua impian melayang di udara bersatu dan memberat, lalu jatuh di atas bumi, jatuh dan buyar di atas batu. Dua titik embun bergayut di kun…
  • Berulangkali Depan cermin dahsyat Sejarah, tak sehelai kain dapat menutup ketelanjangan kita Makanan bubuk segala pakaian kebesaran dan topeng sandiwara! Nam…
  • Percakapan Dua Orang Ibu Sekuntum bunga liar, bapaknya angin lalu, kaupetik dengan durinya, dengan durinya Siapa mengusap lukamu nanti, darahmu nanti? (Kenangan…
  • Selain Cahaya Matamu Saya tidak punya apa-apa lagi, selain cahaya matamu memandang pada nasibku. Nabi-nabi lahir dan disalib dalam riwayat hidup kita yang sudah …
  • Anak-Anak Tanpa NamaAnak-anak tanpa nama, anak-anak tak dikenal siapabercerita padaku, mengadu kepadakuayah-ayah mereka berangkat pagi-pagidan kemudian tiada pernah kembali.Hari-ha…
  • Sisyphus Sisyphus mendorong batu ke puncak gunung dan batu kembali ke jurang menggelundung. Bolak-balik beribu tahun: beribu tahun kau mendaki dan tergelincir, ja…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.