Aku Berduka atas Matinya Kita
2025
Analisis Puisi:
Puisi "Aku Berduka atas Matinya Kita" karya Ehfrem Vyzty mengangkat tema perpisahan dan kehancuran hubungan. Puisi ini mencerminkan rasa kehilangan yang mendalam, diiringi dengan emosi luka dan dendam yang belum usai.
Makna Tersirat
Puisi ini menyiratkan bahwa hubungan yang telah mati tidak hanya sebatas perpisahan fisik, tetapi juga kematian emosional dan spiritual antara dua orang. Ketika ego menghalangi rekonsiliasi dan rasa sakit terus tumbuh, maka hubungan tersebut tidak lagi bisa diselamatkan.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang merasakan kesedihan mendalam akibat berakhirnya suatu hubungan. Kenangan-kenangan masih menyisakan luka, namun pertemuan kembali terasa mustahil karena adanya kebekuan hati dan ego yang menghalangi. Akhirnya, hubungan yang pernah ada benar-benar mati, seperti bulan yang bermimpi merangkul matahari—sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana muram, penuh luka, dan bernuansa duka mendalam. Perasaan kehilangan begitu kuat, seolah-olah hubungan tersebut benar-benar telah mati dan tidak bisa dihidupkan kembali.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengingatkan bahwa ego dan luka yang terus dipelihara dapat menghancurkan hubungan. Perpisahan terkadang bukan hanya tentang dua orang yang berpisah secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana hati dan jiwa mereka tidak lagi saling terhubung.
Imaji
- Imaji Visual: "Sepenggal luka masih deras mengeluarkan darah-darah pada kepala" → menggambarkan luka emosional yang seolah-olah tampak nyata secara fisik.
- Imaji Perasaan: "Aku sudah menjelma dingin angin" → menunjukkan bagaimana tokoh dalam puisi menjadi hampa dan kehilangan perasaan.
- Imaji Auditori: "Sejuta dendam masih setia menikam rindu atas kenangan-kenangan dalam dada" → menggambarkan rindu yang menyakitkan, seolah terdengar dalam hati.
Majas
- Majas Metafora: "Aku sudah menjelma dingin angin" → menggambarkan kehilangan emosi dan perasaan. "Kita tidak lebih dari sekadar bulan yang bermimpi merangkul matahari di langit lepas" → menggambarkan harapan yang mustahil.
- Majas Personifikasi: "Sejuta dendam masih setia menikam rindu" → dendam digambarkan seperti sesuatu yang bisa menikam.
- Majas Hiperbola: "Sepenggal luka masih deras mengeluarkan darah-darah pada kepala" → melebih-lebihkan rasa sakit emosional seolah-olah terlihat secara fisik.
Puisi "Aku Berduka atas Matinya Kita" karya Ehfrem Vyzty adalah refleksi mendalam tentang kehilangan, ego, dan perpisahan yang menyakitkan. Dengan bahasa yang penuh metafora dan imaji yang kuat, puisi ini menggambarkan bagaimana hubungan bisa mati bukan hanya karena jarak, tetapi juga karena hati yang tidak lagi bisa bertemu. Pesan yang bisa diambil adalah bahwa tanpa keterbukaan dan keikhlasan, sebuah hubungan bisa berakhir dalam kehancuran dan duka yang mendalam.
Biodata Ehfrem Vyzty:
- Ehfrem Vyzty lahir pada tanggal 9 Juni 2003 di Manggarai, Flores, NTT.
- Ehfrem Vyzty pernah mengikuti lomba cipta puisi di berbagai media dan telah mendapatkan sertifikat sebagai penulis terbaik. Beberapa puisi maupun cerpennya telah dibukukan.
- Ehfrem Vyzty merupakan siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, NTT.
- Buku perdananya bertajuk “Melukismu dalam Aksara” telah diterbitkan beberapa waktu yang lalu oleh penerbit JSI. Buku berikutnya akan diterbitkan dalam waktu dekat.