Puisi: Tentang Mimpi (Karya Motinggo Boesje)

Puisi "Tentang Mimpi" karya Motinggo Boesje mengangkat isu tentang kekuasaan, nasib, dan kepercayaan terhadap takdir. Dengan menggunakan simbol dan ..
Tentang Mimpi (1)

Dalam pengalaman Sanu aku bermimpi
Seorang Raja memasuki rumah berpintu rendah
Terantuklah kepada beliau yang dihormati jutaan manusia
(termasuk tukang cukurnya)
Dan tahun depan
Kuceritakan pada seorang kawan
Harap tenang
Beliau akan tumbang
Ha? Ya!
Di antara ha dan ya dan ya ha dan ya
Kemudian,
Hal itupun terjadilah
Pernah kudengar kun itu
Di telinga kananku

Tentang Mimpi (2)

Sekitar tiga tahun lalu
Aku bermimpi begitu banyak orang-orang besar
Compang-camping
Di antaranya ada wanita memakai caping
Orang-orang besar
Di gunung Tidar
Kasihan
Mereka dalam penderitaan,
Kataku
Ada kudengar kun itu
Belum kusaksikan fayakun-Mu itu
Kini mataku terbuka
Aku percaya Kau
Percaya

Sumber: Horison (April, 1985)

Analisis Puisi:

Puisi "Tentang Mimpi" karya Motinggo Boesje memiliki tema tentang ramalan, takdir, dan ketidakpastian hidup. Penyair menggambarkan pengalaman mimpi yang berkaitan dengan peristiwa besar, termasuk jatuhnya seorang raja dan penderitaan orang-orang besar.

Makna Tersirat

Dalam puisi ini, Motinggo Boesje tampaknya ingin menyampaikan bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan bisa menjadi pertanda akan kejadian di masa depan. Penyebutan "kun" dalam kedua puisi merujuk pada konsep Islam kun fayakun (jadilah, maka jadilah), yang mengisyaratkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan.

Selain itu, puisi ini juga mengandung kritik sosial. Dalam Tentang Mimpi (1), ada sindiran terhadap penguasa yang terlalu diagungkan, bahkan oleh "tukang cukurnya", tetapi pada akhirnya tetap tumbang. Sementara dalam Tentang Mimpi (2), gambaran "orang-orang besar" yang "compang-camping" di Gunung Tidar bisa merujuk pada para pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengalami kejatuhan atau kesengsaraan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman mimpi sang penyair yang menggambarkan kejatuhan seorang pemimpin (Tentang Mimpi 1) dan penderitaan orang-orang besar (Tentang Mimpi 2). Mimpi-mimpi ini dihubungkan dengan konsep keimanan dan takdir, serta mencerminkan realitas sosial yang dialami masyarakat.

Majas

Motinggo Boesje menggunakan beberapa majas dalam puisi ini, antara lain:
  • Majas Metafora: "Dalam pengalaman Sanu aku bermimpi" bisa diartikan sebagai pengalaman batin yang lebih dari sekadar mimpi biasa.
  • Majas Ironi: Pada Tentang Mimpi (1), ada ironi dalam penggambaran seorang raja yang dihormati oleh jutaan orang, termasuk tukang cukurnya, tetapi tetap terjatuh karena pintu yang rendah.
  • Majas Simbolik: Kata "Gunung Tidar" dalam Tentang Mimpi (2) bisa melambangkan pusat kekuasaan atau tempat mistis yang berhubungan dengan nasib para pemimpin.
Puisi "Tentang Mimpi" karya Motinggo Boesje mengangkat isu tentang kekuasaan, nasib, dan kepercayaan terhadap takdir. Dengan menggunakan simbol dan ironi, penyair ingin menyampaikan bahwa kejatuhan penguasa dan penderitaan orang-orang besar bukanlah hal yang mustahil, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang sudah ditentukan.

Motinggo Boesje
Puisi: Tentang Mimpi
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Angin Tiada BerembusMusim-musim telah mengabadikan bunga-bunga yang,sepagi ini akan tumbuh di tepi pantai sunyi.Lalu datang angin melanda bunga di tepi pantai sunyi.Angin yang lagi…
  • Yang Dilanda KekalahanBuat Kekasih: PintaYang dilanda kekalahan, itulah aku.Yang kini tiada bisa bikin bicara apa-apa.Yang dulu telah kuberi sedetik tanda harapan,tapi kekalahan ju…
  • Mata Pelajaran Sanu, Sang GuruTubuhO, Murid yang lelah menderita bertahun-tahunmengeluh karena belantara mimpiyang tak selesaiyang tak usai-usaiduduklah tertib seperti duduknya par…
  • Malam Putihada terasa bebas setelah segala menjadi abuada terasa sakit setelah hati dibelah sembiluada terpancang bulan menjadi cerah: bintang jadi terangada terpancang di hati: ny…
  • Kota Kami Dahulutak kukira, kukira kaliku sudah tak di situ lagikita lama saling terendam sampai lumpurnyajika kau belum lupa pada anakmu sebesar siapa ia kinikuburan duka di sana,…
  • Linggau Malamketika aku akan pulang terpaksa aku tanyakan hatisegala yang terbetik dari laut-birunya liarnya kehidupanberpotret diri-sendiri dalam nisannya yang teduhia akan dibuan…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.