Puisi: Sebuah Bank (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Sebuah Bank" karya Wiji Thukul adalah kritik tajam terhadap ketidaksetaraan sosial dan politik yang ada di Indonesia.
Sebuah Bank

Sebuah bank
memasang iklan
ukuran setengah halaman koran,
teriaknya:
Dirgahayu Republik Indonesia 51 th

Dengan huruf kapital
iklan itu juga memekik-mekik:
MERDEKA MERDEKA
MERDEKA

Sementara itu ratusan aktivis
di daerah dan di ibukota ditangkapi

Sebuah iklan
ukuran setengah halaman koran
menggusur kenyataan yang
sewenang-wenang
yang seharusnya diberitakan

MERDEKA MERDEKA
MERDEKA
siapa yang merdeka?

Sumber: Para Jendral Marah-Marah (2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Sebuah Bank" karya Wiji Thukul adalah sebuah kritik tajam terhadap ketidaksetaraan sosial dan politik yang ada di Indonesia.

Kesenjangan Sosial: Puisi ini menggambarkan ketidaksetaraan sosial yang nyata di Indonesia pada saat itu. Iklan merayakan kemerdekaan dan kemajuan negara sementara ratusan aktivis ditangkap. Ini mengindikasikan bahwa kemerdekaan dan kemajuan mungkin hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang sementara banyak orang lainnya masih terpinggirkan.

Kritik terhadap Media Massa: Puisi ini mengkritik media massa yang dianggap berpihak pada penguasa atau kepentingan bisnis. Iklan bank yang besar dan mencolok mengalahkan berita tentang penangkapan aktivis yang mungkin lebih penting untuk disuarakan.

Pertanyaan tentang Makna Kemerdekaan: Puisi ini mengakhiri dengan pertanyaan tajam, "siapa yang merdeka?" Ini menyoroti ironi di balik perayaan kemerdekaan sementara banyak warga negara yang tidak merasa merdeka atau memiliki hak dan kebebasan yang sama.

Perasaan Ketidakadilan: Puisi ini menciptakan perasaan ketidakadilan di dalam pembaca. Iklan bank yang besar dan berlebihan menjadi simbol ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat, di mana pemerintah dan perusahaan besar mungkin mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada rakyat kecil.

Puisi "Sebuah Bank" karya Wiji Thukul adalah kritik tajam terhadap ketidaksetaraan sosial dan politik yang ada di Indonesia. Puisi ini menggambarkan perbedaan antara perayaan publik yang meriah dengan realitas yang dialami oleh banyak rakyat yang masih merasa terpinggirkan. Puisi ini juga menggugah pertanyaan penting tentang makna sebenarnya dari kemerdekaan dan siapa yang benar-benar merdeka di dalam masyarakat tersebut.

Wiji Thukul
Puisi: Sebuah Bank
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul (nama asli Wiji Widodo) lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di Solo, Jawa Tengah.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Ndawe WonogiriSenja ini dan yang akanSelalu hitamSeperti gajah berlutu entah belalainya di manaPunggungnya gundul- bukit ituBukit-bukit batu keras mengeraskanBis-bis sepanjang dan …
  • Sajak Pendek (1)kembali kucarikeping pecahan wajahkuyang dulu tersusunwaktu menghancurkannyaketika aku mabuk bayangan arahSajak Pendek (2)kembali ketemuwajahku yang tak pernah utuh…
  • Satu Mimpi Satu Barisandi lembang ada kawan sofyanjualan bakso kini karena dipecat perusahaankarena mogok karena ingin perbaikankarena upah ya karena upahdi ciroyom ada kawan sodiy…
  • Bungahidupbunga warna-warni sekejapmerah warni sekejap lenyapmatiseperti ituSumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)Analisis Puisi:Puisi "Bunga" karya Wiji Thukul adalah karya yan…
  • Di Tingkat Empatdi tingkat empatkotaku di bawah itukelap kelip beribudi tingkat empatkulihat diriku melayangdi bawah orang-orang ributmencibirkan bibir melihat melihat kepalaku pec…
  • (Akasia Bercerita)sebuah topi mahal jatuh di jalan rayapada suatu sore sesudah hujan lebattak dipungut kembali oleh pemiliknyaakasia tepi jalandengan butiran air di pucuk-pucuk dau…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.