Puisi: Prinsip (Karya Hasbi Burman)

Puisi "Prinsip" karya Hasbi Burman menggambarkan pergulatan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh pertarungan dan persaingan.
Prinsip

Setiap sehabis senja
ada pertarungan-pertarungan
piala siap diperebutkan
bukan sekeping hati yang luka
bukan juga dendam antara kita
perebutan antara sesama
apa sajalah
seperti Habil dan Kabil di belahan benua
selepas sebuah buah ranum
bulan merayap-rayap di gurun.

2015

Analisis Puisi:

Puisi "Prinsip" karya Hasbi Burman menggambarkan pergulatan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh pertarungan dan persaingan. Dengan simbolisme yang kuat, puisi ini mengangkat isu universal tentang konflik, ambisi, dan nilai-nilai moral.

Tema dan Makna

Puisi "Prinsip" menyoroti tema pertarungan dalam kehidupan. Penyair menggambarkan bagaimana setiap senja berlalu, selalu ada pertempuran yang harus dihadapi. Kata "piala" dalam konteks ini bisa diartikan sebagai simbol kemenangan atau sesuatu yang diperebutkan, baik dalam bentuk materi maupun status sosial.

Puisi ini juga merefleksikan pertarungan abadi antara kebaikan dan keburukan, seperti yang tergambar dalam kisah Habil dan Kabil. Kisah ini merupakan simbol dari pertikaian pertama dalam sejarah manusia yang dipicu oleh iri hati dan ambisi. Dengan demikian, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang makna persaingan yang sering kali berujung pada luka dan kehancuran.

Gaya Bahasa dan Simbolisme

Hasbi Burman menggunakan berbagai simbol untuk memperkuat makna puisi ini:
  • "Setiap sehabis senja": Senja melambangkan akhir dari suatu fase atau babak kehidupan, yang diikuti oleh konflik baru.
  • "Piala siap diperebutkan": Piala menjadi metafora bagi ambisi dan kemenangan yang diinginkan oleh banyak orang.
  • "Habil dan Kabil di belahan benua": Simbol dari persaingan yang telah terjadi sejak awal peradaban manusia.
  • "Selepas sebuah buah ranum": Buah ranum dapat dikaitkan dengan sesuatu yang menggoda atau memicu konflik, seperti dalam kisah Adam dan Hawa.
  • "Bulan merayap-rayap di gurun": Bulan melambangkan pengawasan, penghakiman, atau refleksi terhadap apa yang telah terjadi.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Puisi ini tetap relevan dalam kehidupan modern, di mana persaingan dalam berbagai aspek—politik, ekonomi, bahkan dalam hubungan sosial—selalu terjadi. Hasbi Burman seakan ingin menunjukkan bahwa manusia secara naluriah selalu berusaha untuk mencapai sesuatu, terkadang dengan cara yang tidak etis. Hal ini mengingatkan kita untuk tetap memegang teguh prinsip dan nilai moral dalam menghadapi kehidupan.

Puisi "Prinsip" karya Hasbi Burman bukan hanya sekadar menggambarkan pertarungan fisik, tetapi juga pergulatan batin dan moral dalam kehidupan manusia. Dengan simbolisme yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan esensi dari ambisi, persaingan, dan konsekuensinya. Sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana manusia berusaha meraih sesuatu dan harga yang harus dibayar untuk itu.

Hasbi Burman
Puisi: Prinsip
Karya: Hasbi Burman

Biodata Hasbi Burman:
  • Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Kepada yang Bernama Hakelsa Seteduh haru aulia di pelabuhanmu Hakelsa Harapan insani tak terkendala Angin basah di setiap hembusan Nyanyian musim buah syurga Seperti buah ku…
  • Di Beranda Mata rantai-mata rantai politik menggelitik di beranda angin panas, kemarau di beranda ternyata kapla-kapla asing terjaring makna di tanah ini tanah kembara di de…
  • Bulan Pecah Selepas senja angin lirih berkata pada sekeping harapan yang lena menggergaji kelam tenggelam satu-satu kepingan nyenyak dalam dengkur musim sekali-sekali kui…
  • Kuala Meurisi Bayangan meurendam dewi Berenang di wajahmu Di udik mengayuh harapan Di udik juga menemui sesuatu Yang dikejar orang - orang sekarang Kehidupan yang terjajah …
  • Kepada Isnu Kembara Seperti Isnu Kembara yang mengetuk mengetuk pintu asmara yang setiap saat menangisi cinta rindu lantang bercakap tentang lautan tapi itu dulu ah, kau ka…
  • Rambung Di antara desau angin kau di gundukan bukit rindu dan iseng akan rintik waktu angin terus bernyanyi tidak pada mestinya kupejam mata sejenak antara amis buangan limba…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.