Puisi: Di Cafe (Karya Avianti Armand)

Puisi "Di Cafe" karya Avianti Armand menggambarkan sebuah suasana di dalam cafe yang menciptakan perasaan sepi dan keinginan untuk kembali pulang.
Di Cafe

Di mejaku secangkir teh tersedu.
Teh itu sepanas matahari.
Aku menggunakan kacamata hitam untuk menahannya.
Seandainya di luar ada sebatang pohon peneduh,
tentu aku bisa pulang.

Oktober, 2012

Sumber: Buku Tentang Ruang (2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Cafe" karya Avianti Armand menggambarkan sebuah suasana di dalam cafe yang menciptakan perasaan sepi dan keinginan untuk kembali pulang. Puisi ini mengundang pembaca untuk merenung tentang arti kesejukan dan kenyamanan di dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana dan Setting: Puisi ini menciptakan gambaran tentang suasana di dalam cafe, di mana penikmat teh sedang duduk dan merenung. Secangkir teh yang sepanas matahari memberikan nuansa panas dan terik, sedangkan kehadiran kacamata hitam menyoroti keinginan untuk melindungi diri dari sinar terang dan panas tersebut. Deskripsi ini memberikan warna pada setting puisi.

Kontras Panas dan Dingin: Puisi mengeksplorasi kontras antara kepanasan teh yang sepanas matahari dengan keinginan untuk memiliki sebatang pohon peneduh di luar cafe. Kontras ini menggambarkan perbedaan antara kondisi di dalam dan di luar cafe, menciptakan perasaan terjebak dan keinginan untuk melarikan diri.

Kacamata Hitam sebagai Pelindung: Penggunaan kacamata hitam sebagai alat perlindungan menunjukkan perlunya melindungi diri dari teriknya suasana di luar. Hal ini bisa diartikan sebagai metafora keinginan untuk melindungi diri dari situasi yang tidak nyaman atau bahkan sebagai perlambangan ketidakmampuan untuk menghadapi keadaan di luar.

Keinginan untuk Pulang: Pernyataan "Seandainya di luar ada sebatang pohon peneduh, tentu aku bisa pulang" menggambarkan rasa rindu dan keinginan untuk kembali ke tempat yang nyaman dan memberikan kesejukan. Pohon peneduh menjadi simbol rumah atau tempat yang memberikan keamanan dan kenyamanan.

Minimalisme dan Keheningan: Puisi ini mengadopsi gaya bahasa yang sederhana dan minimalis. Penggunaan kata-kata yang sedikit menciptakan efek keheningan dan membiarkan pembaca merenung. Setiap kata dipilih dengan cermat untuk mengekspresikan nuansa perasaan yang mendalam.

Pertimbangan Ruang dan Waktu: Dengan fokus pada sebatang pohon peneduh di luar cafe, puisi ini membawa pertimbangan mengenai hubungan antara ruang dan waktu. Kehadiran cafe menciptakan ruang tertentu, sementara keinginan untuk pulang membuka dimensi waktu dan nostalgia.

Simbolisme: Simbolisme teh yang sepanas matahari dan kacamata hitam menciptakan lapisan makna dalam puisi. Teh dapat melambangkan kehidupan yang penuh dengan tekanan dan panas, sedangkan kacamata hitam mencerminkan perlindungan dan kemandirian.

Dengan merangkai kata-kata dengan indah, Avianti Armand menghasilkan puisi "Di Cafe" yang meresap dengan nuansa perasaan, mengeksplorasi kesejukan, keinginan untuk pulang, dan ketidaknyamanan dalam suatu situasi.

Avianti Armand
Puisi: Di Cafe
Karya: Avianti Armand

Biodata Avianti Armand:
  • Avianti Armand lahir pada tanggal 12 Juli 1969 di Jakarta, Indonesia.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.