Puisi: Di Atas Awan (Karya Avianti Armand)

Puisi "Di Atas Awan" karya Avianti Armand adalah sebuah refleksi spiritual yang mendalam tentang pencarian Tuhan dalam kehidupan yang penuh ...
Di Atas Awan

"Aku hampir tak mengenalMu, Tuhan. Tapi di lipatan
jubahMu tersembul jari-jari sekurus ranting yang tak bisa
mengibas lalat di mata. KasutMu mengepulkan debu dari
kota-kota yang tak sengaja terinjak. Jejak air juga belum
mengering di dadaMu dari ibu-ibu yang melepas anaknya
ke arah peluru."
"Aku tahu, itu Kamu."
"Bukan," sangkalNya – lalu berlalu sambil menangis.
"Jangan pergi!"
Ia telanjur berbalik, lupa kalau gerumbul putih itu hanya
sekumpulan air. TubuhNya melesak – hilang jadi butir-
butir hujan.

Sumber: Buku Tentang Ruang (2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Atas Awan" karya Avianti Armand adalah sebuah renungan spiritual yang menyentuh, mengeksplorasi hubungan manusia dengan Tuhan. Melalui penggunaan metafora yang kuat dan simbolisme yang mendalam, puisi ini menggambarkan pencarian dan kebingungan manusia dalam mengenali kehadiran Tuhan di tengah penderitaan dunia.

Pencarian Tuhan dalam Dunia yang Penuh Penderitaan

Puisi ini dibuka dengan sebuah pengakuan yang jujur:

"Aku hampir tak mengenalMu, Tuhan."

Baris ini menggambarkan rasa keterasingan atau kebingungan seseorang dalam mencari dan memahami keberadaan Tuhan. Pernyataan ini bisa mewakili pengalaman spiritual banyak orang yang merasa jauh dari Tuhan, terutama dalam menghadapi realitas kehidupan yang penuh penderitaan.

Namun, meskipun merasa hampir tak mengenal Tuhan, aku lirik masih bisa menemukan petunjuk kehadiran-Nya dalam hal-hal kecil:

"Tapi di lipatan jubahMu tersembul jari-jari sekurus ranting yang tak bisa mengibas lalat di mata."

Gambaran ini sangat kuat. Tuhan, yang sering diasosiasikan dengan kekuatan dan keagungan, justru digambarkan dengan tangan yang kurus dan lemah, bahkan tidak bisa mengusir lalat dari wajah. Ini bisa diartikan sebagai representasi penderitaan manusia yang juga dialami oleh Tuhan.

Gambaran lebih lanjut memperlihatkan bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam kemegahan, tetapi juga dalam jejak penderitaan yang tersebar di dunia:

"KasutMu mengepulkan debu dari kota-kota yang tak sengaja terinjak."

Debu yang mengepul dari kota-kota yang terinjak bisa melambangkan kehancuran, perang, atau kemiskinan. Tuhan digambarkan berjalan di tempat-tempat yang penuh penderitaan, menunjukkan bahwa kehadiran-Nya selalu ada, meskipun sering kali tidak disadari oleh manusia.

Tuhan dalam Kesedihan dan Kehilangan

Baris berikutnya semakin memperjelas tema penderitaan:

"Jejak air juga belum mengering di dadaMu dari ibu-ibu yang melepas anaknya ke arah peluru."

Gambaran ini sangat emosional, membangkitkan bayangan tentang ibu-ibu yang kehilangan anak mereka akibat kekerasan atau perang. Jejak air di dada Tuhan bisa diartikan sebagai air mata atau sisa kesedihan yang belum hilang. Ini memperlihatkan Tuhan sebagai sosok yang turut merasakan kesedihan manusia, bukan sebagai entitas yang jauh dan tak peduli.

Dalam momen ini, aku lirik merasa yakin bahwa yang ia lihat adalah Tuhan:

"Aku tahu, itu Kamu."

Namun, jawaban yang diberikan justru mengejutkan:

"Bukan," sangkalNya – lalu berlalu sambil menangis.

Penolakan ini mencerminkan ketidakpastian dalam pencarian spiritual. Bisa jadi Tuhan menolak pengenalan ini karena manusia masih memiliki pemahaman yang terbatas tentang-Nya. Atau bisa juga ini merupakan cara Tuhan untuk mengajarkan bahwa kehadiran-Nya tidak bisa ditangkap secara sederhana.

Tuhan yang Lenyap dan Menyatu dengan Alam

Bagian terakhir puisi ini menutup dengan adegan dramatis:

"Jangan pergi!"
Ia telanjur berbalik, lupa kalau gerumbul putih itu hanya sekumpulan air. TubuhNya melesak – hilang jadi butir-butir hujan."

Gerumbul putih di sini merujuk pada awan, yang dalam konteks puisi ini bisa diartikan sebagai tempat Tuhan bersemayam. Namun, ketika Tuhan berbalik, tubuh-Nya berubah menjadi hujan—sebuah gambaran yang sangat simbolis.

Hujan bisa dimaknai sebagai keberlanjutan kehidupan, berkah, atau bahkan kesedihan yang turun dari langit. Transformasi Tuhan menjadi hujan menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan menyatu dengan alam dan tetap hadir dalam berbagai bentuk yang berbeda.

Tema dan Makna Keseluruhan

Puisi ini membawa beberapa tema utama:
  • Pencarian Spiritual dan Keraguan – Aku lirik hampir tidak mengenal Tuhan, mencerminkan pencarian spiritual yang sering kali disertai kebingungan dan ketidakpastian.
  • Tuhan dalam Penderitaan – Tuhan tidak hanya hadir dalam keagungan, tetapi juga dalam kesedihan, kehilangan, dan penderitaan manusia.
  • Keberadaan Tuhan yang Tidak Selalu Mudah Dipahami – Tuhan menolak pengenalan manusia, menandakan bahwa pemahaman manusia tentang-Nya selalu terbatas.
  • Tuhan yang Menyatu dengan Alam – Pada akhirnya, Tuhan tidak benar-benar menghilang, tetapi berubah bentuk menjadi hujan, melambangkan keberlanjutan dan berkah.

Gaya Bahasa dalam Puisi

Puisi Di Atas Awan menggunakan berbagai teknik kebahasaan yang memperkuat maknanya:
  • Metafora – Tuhan digambarkan dengan jubah, kasut, dan air mata, yang mewakili kehadiran-Nya di dunia.
  • Personifikasi – Tuhan menangis, berjalan, dan kemudian berubah menjadi hujan, memberikan kesan bahwa Tuhan memiliki emosi dan merasakan penderitaan manusia.
  • Simbolisme – Hujan sebagai keberlanjutan, jubah sebagai perlindungan, dan kasut sebagai perjalanan Tuhan di dunia yang penuh penderitaan.
Puisi "Di Atas Awan" karya Avianti Armand adalah sebuah refleksi spiritual yang mendalam tentang pencarian Tuhan dalam kehidupan yang penuh penderitaan. Dengan bahasa yang puitis dan simbolisme yang kuat, puisi ini menggambarkan Tuhan bukan sebagai sosok yang jauh dan tak terjangkau, tetapi sebagai entitas yang ikut merasakan kesedihan manusia.

Namun, pada akhirnya, Tuhan tetap menjadi misteri. Ia menolak dikenali dengan cara yang sederhana, dan ketika manusia mencoba mendekatinya, Ia menghilang—tetapi bukan dalam arti meninggalkan, melainkan berubah bentuk menjadi sesuatu yang tetap menyentuh kehidupan manusia: hujan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali cara mereka memahami kehadiran Tuhan, serta bagaimana keimanan sering kali diuji dalam ketidakpastian dan penderitaan.

Avianti Armand
Puisi: Di Atas Awan
Karya: Avianti Armand

Biodata Avianti Armand:

Avianti Armand lahir pada tanggal 12 Juli 1969 di Jakarta, Indonesia.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.