Analisis Puisi:
Puisi "Ketika Menunggu" adalah puisi karya Gunoto Saparie yang menggambarkan pengalaman emosional seseorang yang tengah menanti kedatangan kekasihnya. Dalam puisi ini, Gunoto mengajak pembaca merasakan perasaan rindu, cemas, dan kesabaran yang kerap kali menyertai proses menunggu. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini menggambarkan dinamika emosi yang mendalam dan universal.
Tema dan Makna
Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan dan ketidakpastian. Si penyair mengisahkan tentang momen-momen menunggu yang dipenuhi dengan perasaan rindu dan harapan. Menunggu bukan hanya tentang menanti kedatangan seseorang secara fisik, tetapi juga tentang mengatasi perasaan yang muncul selama proses tersebut.
Struktur dan Gaya Bahasa
Puisi ini terdiri dari tiga bait, masing-masing berisi empat baris. Strukturnya yang sederhana mencerminkan kesederhanaan namun kedalaman emosi yang dirasakan oleh penyair. Gunoto Saparie menggunakan bahasa yang lugas dan langsung, namun tetap puitis, dengan penggunaan metafora dan simbolisme untuk menyampaikan perasaan dan suasana.
- Pada bait pertama, penyair menggambarkan dirinya yang sedang menunggu di sudut ruang. Suasana ruang yang tenang kontras dengan rindu yang dipendam di hati. Lalu lalang orang-orang menciptakan suasana hiruk-pikuk, namun tetap saja tidak mengalihkan fokus dari perasaan rindu. Pesan dari kekasih untuk menjaga diri menambah lapisan kepedulian dan perhatian, memperkuat ikatan emosional antara keduanya.
- Bait kedua memperlihatkan kedalaman perasaan penyair terhadap kekasihnya. Nama kekasih yang "tertoreh di jantung" menunjukkan betapa mendalam dan kuatnya ikatan emosional mereka. Kenangan saat-saat bersama menjadi penghiburan saat menunggu, meskipun ada ketidakpastian mengenai keberadaan kekasih. Perasaan tidak tahu di mana kekasih menambah elemen kecemasan dan ketidakpastian
- Bait ketiga menggambarkan ketidakpastian dan kecemasan yang semakin kuat. Menunggu sebelum bertemu dan kereta yang belum tiba menjadi simbol dari ketidakpastian dan penantian yang tak berujung. Penyair berada dalam kondisi antara tidur dan jaga, menggambarkan kecemasan dan kegelisahan yang dirasakan. Lanskap di luar jendela yang "tiada makna" menunjukkan betapa seluruh perhatian dan fokus penyair tertuju pada penantian, membuat hal-hal di sekitarnya terasa tidak relevan.
Puisi "Ketika Menunggu" karya Gunoto Saparie berhasil menggambarkan perasaan rindu, kecemasan, dan ketidakpastian yang sering kali menyertai proses menunggu. Melalui bahasa yang sederhana namun puitis, puisi ini membawa pembaca merasakan emosi yang mendalam dan universal. Struktur puisi yang teratur mencerminkan keteraturan dalam kekacauan emosional yang dirasakan penulis. Gunoto Saparie berhasil menyampaikan pesan bahwa menunggu adalah proses yang penuh dengan dinamika emosi, namun juga memperlihatkan keindahan dalam ketidakpastian dan penantian.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.