Teringat pada Daun
Bagaimana aku bisa lupa padamu, daun
Setelah kauajar selama bertahun-tahun
Menghadapi berbagai musim dan kekecewaan
Di laut, sekarang aku jadi biduk
Tak berdaya, kosong dan sakit-sakitan
Jauh dari hutan, jauh dari kalian
Tapi lupakah aku padamu begitu saja?
Nasib membuatku jadi sepotong gabus
Kapal tanpa kompas, perahu tanpa layar
Tapi jangan bilang aku lupakan kalian
Hutang rindu, hutang kasih sayang
Tak tertebus dengan sejuta bait gurindam
Hidup bukan sekedar iuran perkataan
Sejak dulu telah kauajar aku membuktikan
Sekarang, di tengah lautan kata-kata
Aku memanggilimu, daun-daun
Yang telah menghijaukan perasaan
Dengan usapan dan tamparan di masa kecil
Ombak kini menggantikanmu
Dengan ayunan dan hempasan
Mendekatkan aku ke akhir perjalanan
Rawamangun, 1983
Analisis Puisi:
Puisi "Teringat pada Daun" karya Eka Budianta adalah refleksi yang mendalam tentang kenangan, rasa kehilangan, dan perjalanan hidup.
Sentimen Terhadap Alam: Puisi ini memancarkan rasa keterikatan yang kuat terhadap alam, terutama melalui gambaran daun. Daun menjadi simbol kehidupan alam yang kuat dan konstan, bahkan di tengah perubahan dan tantangan.
Nostalgia dan Kenangan: Penyair merenung tentang kenangan masa lalu yang terkait erat dengan alam, terutama daun. Kenangan ini menjadi bagian penting dari identitas dan perjalanan pribadi, menandai waktu yang dihabiskan di lingkungan alam.
Perubahan dan Ketidakpastian: Puisi ini menggambarkan perubahan dan ketidakpastian yang dialami oleh individu dalam kehidupan. Seperti kapal tanpa kompas, penyair merasa terombang-ambing dan kehilangan arah di lautan kehidupan, jauh dari akar dan keseimbangan yang diberikan oleh alam.
Hutang Rindu dan Kasih Sayang: Penyair merasa memiliki "hutang rindu" dan "hutang kasih sayang" kepada alam, yang tidak dapat dibayar dengan kata-kata atau tindakan semata. Ini mencerminkan rasa terima kasih yang mendalam dan rasa hormat terhadap kehidupan dan keindahan alam.
Pencarian Makna dan Akhir Perjalanan: Puisi ini mencerminkan pencarian makna dan akhir perjalanan hidup. Dengan memanggil daun-daun sebagai simbol kehidupan yang dulu dikenalnya, penyair mencoba merangkul kembali akar-akar yang telah ditinggalkannya, bahkan ketika ombak lautan menggantikan kehadiran daun-daun itu.
Puisi "Teringat pada Daun" adalah pengakuan akan hubungan manusia dengan alam, nostalgia akan kenangan masa lalu, dan pencarian makna dalam perjalanan hidup. Melalui metafora alam, penyair mencoba merangkul kembali kekayaan dan keindahan alam yang telah menjadi bagian integral dari kehidupannya. Ini adalah penghormatan terhadap kehidupan, keberanian dalam menghadapi perubahan, dan rasa syukur akan keajaiban alam.
Karya: Eka Budianta
Biodata Eka Budianta:
- Christophorus Apolinaris Eka Budianta Martoredjo.
- Eka Budianta lahir pada tanggal 1 Februari 1956 di Ngimbang, Jawa Timur.