Puisi: Sungai Masa Lalu (Karya Ahmad Fahrawi)

Puisi "Sungai Masa Lalu" karya Ahmad Fahrawi menggambarkan perubahan dramatis dalam lingkungan dan budaya di sekitar sungai dari masa lalu ke ...

Sungai Masa Lalu



sungai masa lalu, di tubuhnya melintang jembatan bambu
sungai belakang rumahku, lubuk dalam misteri bisu
sungai kota kecil, lanting permandian pohon lua di tepian

dari hulu perahu-perahu dikayuh, jala dilabuh
dari hulu biji-biji para larut, bocah-bocah berebut
dari hulu berbugil mengikuti alir
keriangan menghilir

sungai masa lalu
sungai rindu
bocah melempar batu ke lubuk dalam
riaknya yang terbayang adalah kenang

sungai masa lalu, parit keruh masa kini
perahu-perahu kehilangan tambatan
ikan-ikan kehilangan lubuk
bocah-bocah kehilangan rebutan
mempatnya air di hulu, longsornya tanah-tanah tepian
sungai kota kecil menghiliri kemajuan


Martapura, 1982

Sumber: Pendulang, Hutan Pinus, dan Hujan (2011)

Catatan:
Puisi ini pernah dimuat di majalah Horison edisi November, 1985.

Analisis Puisi:
Puisi "Sungai Masa Lalu" karya Ahmad Fahrawi adalah sebuah karya yang menggambarkan transformasi sungai dari masa lalu ke masa kini. Puisi ini menciptakan perbandingan antara sungai pada masa lalu yang indah dan hidup dengan sungai pada masa kini yang telah mengalami perubahan besar.

Gambaran Sungai Masa Lalu: Puisi ini membuka dengan gambaran sungai masa lalu yang penuh dengan kehidupan dan aktivitas. Jembatan bambu yang melintasi sungai tersebut menunjukkan bahwa sungai ini adalah bagian integral dari komunitas dan hubungan sosial yang kuat. Sungai ini digambarkan sebagai tempat mandi dan tempat permainan anak-anak. Sungai ini penuh dengan kegembiraan dan kehidupan.

Kontras dengan Sungai Masa Kini: Puisi ini menggambarkan perubahan dramatis dalam kondisi sungai dari masa lalu ke masa kini. Sungai yang dulunya hidup, sekarang menjadi parit keruh. Keindahan sungai telah hilang, perahu-perahu tak lagi berlabuh di sana, dan anak-anak tak lagi berebutan di tepi sungai. Ini menciptakan gambaran yang kontras dengan masa lalu yang gemilang.

Kritik Terhadap Kemajuan: Puisi ini mengkritik dampak negatif dari kemajuan yang sering mengorbankan alam dan lingkungan. Kemajuan kota dan perubahan dalam cara hidup telah menyebabkan kerusakan pada sungai dan lingkungannya. Sungai yang pernah menjadi pusat kehidupan dan kegembiraan sekarang hanya menjadi lambang kehilangan.

Nostalgia dan Rasa Rindu: Puisi ini mengungkapkan rasa nostalgia dan rindu penulis terhadap sungai masa lalu. Puisi ini menciptakan citra-citra indah dari masa kecil dan masa lalu yang telah hilang. Sungai adalah simbol kenangan dan rasa rindu akan kebahagiaan yang telah berlalu.

Gaya Bahasa: Penyair menggunakan bahasa yang kaya dalam puisi ini untuk menciptakan gambaran hidup dari sungai masa lalu dan kontrasnya dengan masa kini. Ia memanfaatkan kata-kata yang kuat dan deskriptif untuk menggambarkan perubahan tersebut.

Puisi "Sungai Masa Lalu" menggambarkan perubahan dramatis dalam lingkungan dan budaya di sekitar sungai dari masa lalu ke masa kini. Ini juga mengungkapkan rasa nostalgia penulis terhadap kenangan indah dari masa kecilnya yang telah berlalu. Dalam prosesnya, puisi ini mengingatkan kita untuk merenungkan pentingnya pelestarian alam dan nilai-nilai kehidupan yang mungkin telah hilang seiring dengan kemajuan zaman.

Ahmad Fahrawi
Puisi: Sungai Masa Lalu
Karya: Ahmad Fahrawi

Biodata Ahmad Fahrawi:
  • Ahmad Fahrawi (sering memakai nama samaran Era Novie M.) lahir pada tanggal 22 November 1954 di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Ia mulai aktif menulis sejak tahun 70-an.
  • Ahmad Fahrawi meninggal dunia pada tanggal 5 Juni 1990 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • SungaiSungai mengalir dari sumber kebenaranmuYang sejati. Jiwaku tenggelam dalam ketakterhinggaanCintamu yang abadi. Menghitung pesonaMenjaring sasmitaKata-kata mengalir dari sunga…
  • SajakPerempuan itu tanpa namaLahir dari kesunyianKetika langit bersihMengalirkan sungai kasih“Tapi aku bukan penzinahAku seorang penziarah!”Lantas siapa yang menyimpanTangisnya? Si…
  • Penggali SumurTak bisa angkat tangan. sebelah atau dua dua. lubang tak bersapadan sepi melolong menyayat riak air. langit bergoyang dalam diridi mana tiang menegak? atasku. lubang …
  • LindapKita pun kelu mengeja rinduBerkaca di kolam jiwaTercipta lagu dari kediaman yang bisuSepi yang menikam kalbuMaka lelaplah waktuHari-hari lindap tanpa bicaraLelap pun kita,lar…
  • Lagu MurniVersi buku Menjadi Penyair Lagi (2007)Sunyi pun menyeru dalam gelas rinduKita di sini, menating kesementaraan waktuHari-hari pun luruh, menimbun tanah usiaKian tenggelam:…
  • Dari Pantai ke Pantaidari pantai ke pantai camar menyanyikan mimpipekiknya merasuki pesisir. Menggali-gali(karang-karang menjalin akar di kedalaman)"belantara remang minta bulan""t…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.