Prasasti Bumi Mataram
Tanah ini memang sakti. Tajamnya keris pedang
peluru mesiu meriam senapan tak meninggalkan bercak luka
dan menjelma peta. Tak merusak situs makam raja dan pangeran
tak menggusur kubur sunyi kaum pidak pedarakan
pusaka anak-cucu dari zaman ke zaman
Tanah ini bukan padang Kurukasetra
kepundan gunung berapi, atau Hutan Dandaka.
Tak ada sisa akar mimang, sisik ular siluman, tonggak kayu ingas
yang memaksa engkau aku memasang pagar dan tapal batas
setelah kota demi kota habis dimangsa raksasa
berbekal restu panglima dan pemilik singgasana
Selamanya hanya sabar yang tumbuh menjalar
menyertai akar beringin, pohon asam, dan tanjung
mengirim rasa nyaman hingga pelosok kampung
Selamanya hanya tembang yang dimuliakan
rumpun melati dan kembang wora-wari bang
merawat prenjak pleci menandai siapa kerabat yang bakal datang
Selamanya hanya kursi kayu atau bambu yang menunggumu
di beranda, ketika hidup rasa diburu-buru
dan engkau aku mencari suaka di pangkuannya
Sepatuh itu ia menerima dan menyimpan cacat cela
menyaring duka derita kembali bening
menjaring ulat lalat sebelum memusuhi dan dimusuhi
oleh tangan-tangan jujur dan perkasa, hingga nasibnya
ditentukan pestisida kimia yang angkara murka
Di sini, berdiri dan berpijaklah pada cinta
bertutur serupa mekarnya bunga Wijayakusuma
membungkuk dengan punggung tertekuk
seolah tongkat yang sarat takluk
memandang belalang tak menjadi hama
memandang tikus pemburu sampah cendekia
hingga racun dan perangkap tak mudah membuatnya binasa
Maka, datanglah. Serupa embun membasahi sekujur daun
serupa tonggeret bernyanyi pada bulan Mei
bukan memiliki, tapi memberi.
Bukan mengibarkan hebat, tetapi mengukir riwayat
karena di sini kayu batu penuh isyarat
kacang tanah, padi, jagung dan ketela
bisa membaca siapa yang pantas disebut saudara
Berjanjilah sesekali, datang kemari
jika kiblat empat gamang menunjuk rumah yang lapang
di mana engkau tak lagi bisa sembunyi.
Tetapi, jangan membekal belati
duri di hati, dan siasat untuk dipuji.
Karena setiap pintu jendela rumah
dijaga senyum indah yang berakar di dada kiri
Di sini, hanya selamat yang dijanjikan
oleh legenda dan kisah lama. Hanya salam sapa
yang bakal memberi harga sepotong kayu
selembar kertas, hingga baju bekas
karena di sini semua adalah guru.
Di sini bukan tanah untuk memulai jalan pintas
tetapi bumi yang sangat berkelas
untuk belajar berkaca dan berani menyatakan keliru