Sia-Sia
dari jendela jelas
merayap menjenguk di lereng atap
cerah lingkarkan pilu
meredup hatiku
bulan tenang —
sindir-menyindir demam cintaku
angkuh kulepas sendu ratap
walau demikian tak ada harap
tak akan sampai padamu
bulan tenang —
kau tak tergetar dan
tak akan tahu
irama ketat tetesan air
selamatkan daku dari susulan
yang terlambat dibela
terlanjur berakhir
bulan tenang —
singkir-menyingkirkan selubung
cintaku, curang, tertinggal
telanjang bayangan, tersipu
mengelak sebutkan namamu, dan —
bulan tenang —
menahan tawa dan air mata
meski sunyi untuk bercinta
memang bukan waktunya
Analisis Puisi:
Puisi "Sia-Sia" karya Toeti Heraty menciptakan suasana yang melankolis dan penuh rahasia melalui penggunaan bahasa yang metaforis dan gambaran yang mendalam. Puisi ini mengeksplorasi tema cinta, kekecewaan, dan ketidakpastian dalam hubungan.
Gambaran Visual dan Emosional dari Jendela: Puisi ini dimulai dengan gambaran jelas dari jendela, memberikan kesan fisik dan emosional tentang apa yang dapat dilihat dari sana. "Jendela jelas" menciptakan suasana terang dan terbuka, namun isi puisi segera mengubahnya menjadi gambaran kegelapan dan pilu yang melingkari hati penyair.
Metafora Bulan Tenang: Bulan dalam puisi ini berfungsi sebagai simbol ketenangan, keindahan, dan kelemahan dalam cinta. Meskipun tampak tenang, bulan menjadi saksi dari sindiran, keangkuhan, dan keputusasaan yang dirasakan oleh penyair. Bulan menjadi saksi bisu terhadap perasaan yang tidak terungkap.
3. Ritme dan Ketegangan Emosional
Puisi ini dipenuhi dengan ritme yang ketat, tercermin dalam penggunaan irama tetesan air. Hal ini menciptakan ketegangan emosional dan melambangkan perasaan yang terjalin erat, namun juga terancam putus. Ketegangan ini tercermin dalam keinginan penyair untuk diselamatkan dari "susulan yang terlambat dibela."
Bayangan dan Curang: Puisi menciptakan gambaran tentang cinta yang diselubungi oleh bayangan dan kecurangan. Ada usaha untuk menyembunyikan kebenaran dan menyingkirkan selubung cinta yang terlanjur berakhir sia-sia. Penyair merasa terlantar dan mencoba untuk menghindari menyebutkan nama orang yang dicintainya.
Waktu yang Tidak Tepat untuk Bercinta: Penyair menekankan bahwa "memang bukan waktunya" untuk bercinta, menunjukkan bahwa mungkin ada faktor waktu atau situasi yang membuat hubungan ini sia-sia atau tidak dapat direalisasikan. Meskipun mungkin ada rasa cinta, keadaan tidak mendukung untuk menyatukan dua hati.
Puisi "Sia-Sia" adalah ekspresi yang indah dan kompleks tentang cinta yang penuh kekecewaan dan ketidakpastian. Toeti Heraty menggunakan gambaran yang kuat, metafora yang dalam, dan ritme yang khas untuk menciptakan suasana yang menghantui dan melankolis. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kerumitan emosi dan perasaan yang mungkin dialami dalam hubungan manusiawi.
Karya: Toeti Heraty
Biodata Toeti Heraty:
- Toeti Heraty lahir pada tanggal 27 November 1933 di Bandung.
- Toeti Heraty meninggal dunia pada tanggal 13 Juni 2021 (pada usia 87) di Jakarta.