Balada Pak Bejo
pak Bejo membentak bininya:
- hari ini sepi!
mbok Bejo tak mau kalah:
- anak-anak minta baju seragam!
pak Bejo juga:
- aku sudah keliling kota
- aku sudah kerja keras
- tapi kalah dengan bis kota
- hari ini aku cuma dapat uang setoran
mbok Bejo tak mau mendengar
mbok Bejo tetap marah
mbok Bejo terus ngomel
pak Bejo kesal
nyaut sarung kabur ke warung
nenggak ciu-bekonang
minum segelas
lalu segelas lagi
kemudian hanyut dalam gending Sarung Jagung
bersama pak Kromo
bersama pak Wiryo
bersama pak Kerto
njoget tertawa mabuk
benak yang sumpeg dikibaskan
lepas bebas
lupa anak lupa hutang
lupa sewa rumah
lupa bayaran sekolah
lepas bebas
lenggak-lenggok gumpalan awan
bersama bintang-bintang
ketika bulan sudah miring
pak Bejo mendengkur di depan pintu
sampai terang pagi
lalu istri melotot lagi
Solo, Juli 1988
Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
Catatan:
- Nyaut: mengambil
- Nenggak: meminum
- Ciu-bekonang: ciu sejenis minuman keras yang diproduksi sendiri oleh masyarakat Bekonang, daerah di sebelah timur Solo arah ke Sukoharjo dan Karanganyar.
- Gending: bunyi gamelan, Sarung Jagung adalah judul gendingnya.
- Sumpeg: rasa sesak di dada, biasanya berhubungan dengan beban hidup.
Analisis Puisi:
Puisi "Balada Pak Bejo" karya Wiji Thukul adalah karya sastra yang menggambarkan dinamika hubungan antara suami (Pak Bejo) dan istrinya (Mbak Bejo) dalam konteks ketegangan ekonomi dan perasaan frustrasi yang muncul akibat tekanan hidup.
Pertentangan dalam Rumah Tangga: Puisi ini menggambarkan sebuah pertentangan antara suami dan istri, yaitu Pak Bejo dan Mbak Bejo. Pak Bejo mengeluhkan situasi ekonomi yang sulit, sementara Mbak Bejo menuntut pembelian seragam untuk anak-anak. Konflik ini menciptakan gambaran tentang ketegangan yang mungkin terjadi dalam rumah tangga ketika masalah keuangan menjadi fokus perdebatan.
Penderitaan Ekonomi: Puisi ini menciptakan gambaran tentang penderitaan ekonomi yang dihadapi oleh keluarga Pak Bejo. Dia telah bekerja keras dan bahkan berkeliling kota, tetapi hanya mendapatkan uang setoran, yang menunjukkan bahwa penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini menciptakan kesan tentang tantangan ekonomi yang dihadapi oleh banyak keluarga pada waktu itu.
Pelarian dalam Minuman: Pak Bejo mencari pelarian dari tekanan hidup dengan minum ciu-bekonang dan mendengarkan musik gending Sarung Jagung bersama teman-temannya. Ini menciptakan gambaran tentang bagaimana beberapa orang mungkin mencoba melupakan masalah mereka melalui minuman dan hiburan, meskipun hanya sementara.
Kritik terhadap Ketidakpedulian: Puisi ini juga menciptakan kesan tentang ketidakpedulian masyarakat terhadap masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh individu seperti Pak Bejo. Teman-temannya, seperti Pak Kromo, Pak Wiryo, dan Pak Kerto, bersama-sama mengejar kesenangan dan melupakan masalah yang sebenarnya.
Kelupaan dan Pertentangan yang Tetap Ada: Puisi ini menutup dengan gambaran Pak Bejo yang tertidur di depan pintu setelah minum. Namun, istri Pak Bejo, Mbak Bejo, masih marah dan melotot lagi. Ini menciptakan kesan bahwa walaupun sementara Pak Bejo melupakan masalahnya, pertentangan dalam rumah tangga mereka masih ada dan tidak selesai.
Puisi "Balada Pak Bejo" adalah karya sastra yang menggambarkan ketegangan dalam rumah tangga akibat masalah ekonomi dan tekanan hidup. Thukul menggunakan konflik antara suami dan istri untuk menciptakan gambaran tentang tantangan ekonomi yang dihadapi oleh banyak keluarga pada waktu itu. Puisi ini juga mengkritik ketidakpedulian masyarakat terhadap masalah sosial dan menciptakan gambaran tentang pelarian dari masalah dalam minuman dan hiburan sementara.
Karya: Wiji Thukul
Biodata Wiji Thukul:
- Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
- Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
- Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).