Puisi: Akasia Bercerita (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Akasia Bercerita" karya Wiji Thukul menggambarkan peristiwa sederhana di sekitar kita untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang ....
(Akasia Bercerita)


sebuah topi mahal jatuh di jalan raya
pada suatu sore sesudah hujan lebat
tak dipungut kembali oleh pemiliknya

akasia tepi jalan
dengan butiran air di pucuk-pucuk daunnya
akan bercerita dengan jujur
sedia apa kiranya sampai pipinya sipu-sipu malu
pipi akasia
pipi kotamu pula

tadi seorang gelandangan menyeberang jalan ini
lalu lintas ramai hingga agak lama dia di seberang
jalan sana
agak lama dia memondong anak bayinya
agak lama hujan tercurah memandikan mereka berdua
agak lama bayinya menangis dalam curah hujan
tapi tak ada topi di kepala mereka
dan orang-orang yang punya payung
bersiul-siul memuji kebesaran alam ciptaan tuhan

topi mahal itu jatuh di jalan itu juga
tapi hujan sudah reda lama
topi mahal itu tak dipungut lagi pemiliknya
bukankah harganya tak seberapa

13 Desember 1983 24.00

Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)

Analisis Puisi:
Puisi "Akasia Bercerita" karya Wiji Thukul adalah karya yang menyentuh hati tentang realitas sosial dan ketidakadilan dalam masyarakat. Puisi ini menggambarkan peristiwa sederhana di sekitar kita untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang kepedulian sosial.

Topi Mahal yang Terbuang: Puisi dimulai dengan menggambarkan gambaran sederhana tentang seorang pemilik topi mahal yang secara tidak sengaja kehilangan topinya di jalan raya setelah hujan lebat. Ini mungkin menjadi metafora untuk melukiskan ketidakadilan dalam distribusi kekayaan di masyarakat, di mana beberapa orang mungkin merasa tak berarti terhadap barang-barang mahal sementara yang lain berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Akasia sebagai Pengamat: Penyair kemudian menggambarkan akasia yang tumbuh di tepi jalan sebagai saksi bisu dari peristiwa tersebut. Akasia dengan butiran air di daunnya "akan bercerita dengan jujur," menciptakan perasaan bahwa alam juga memiliki kemampuan untuk mengamati dan merasakan kehidupan manusia. Dalam puisi ini, akasia berfungsi sebagai simbol kepekaan alam terhadap ketidakadilan sosial.

Gelandangan yang Tidak Terlihat: Puisi ini menggarisbawahi ketidakpedulian masyarakat terhadap gelandangan yang menyeberang jalan dengan anaknya di tengah lalu lintas yang ramai. Mereka terkena hujan dan bahkan bayi menangis, tetapi orang-orang yang memiliki payung justru bersiul-siul memuji kebesaran alam sambil tidak memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan bantuan.

Pesan Sosial: Puisi ini mengandung pesan sosial yang kuat tentang pentingnya kepedulian terhadap mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat. Penyair mengecam sikap acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama manusia dan mengingatkan kita bahwa nilai sejati seharusnya tidak terkait dengan materi atau status sosial.

Pertanyaan Terakhir: Puisi ini mengakhiri dengan pertanyaan: "bukankah harganya tak seberapa?" Ini mungkin merujuk pada topi mahal yang terbuang di jalan. Pertanyaan ini dapat diinterpretasikan sebagai pertanyaan yang lebih dalam tentang apa yang benar-benar berharga dalam hidup dan mengajak kita untuk merenungkan ulang nilai-nilai sosial kita.

Puisi "Akasia Bercerita" karya Wiji Thukul adalah karya yang menggambarkan realitas sosial yang sederhana tetapi menyentuh hati. Melalui gambaran tentang topi yang terbuang dan akasia yang menjadi pengamat, penyair mengajak kita untuk merenungkan kepedulian sosial, nilai-nilai yang sejati, dan pentingnya membantu mereka yang membutuhkan dalam masyarakat.

Puisi: Akasia Bercerita
Puisi: Akasia Bercerita
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
  • Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.