Puisi: Jangan (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi: Jangan Karya: Slamet Sukirnanto
Jangan


Atas nama apa saja. Jangan melepas burung-burung
di Jakarta. Jangan melepas burung-burung di angkasa
Jangan! Janganlah nyawa satwa ditebar di udara
Yang gelap. Abu-abu. Wajah muram kotamu

Sudah lama. Betapa sulit menanti langit terang bercahaya
Ruang bersih dan tanpa debu. Tapi asap itu
Melengkapi neraka metropolitan ini. Menjauhkan
semua yang asri. Taman bukan lagi taman

Pohon bukan lagi pohon. Bunga bukan lagi bunga
Juga manusia penghuni setia. Sudah lama tanpa langit biru
Udara kotor. Tanpa warna-warni awannya. Matahari merah jingga
Tak lagi menghiasi panorama. Di bawah derasnya lalu lintas

Kemacetan yang membangkitkan hati sumpek! Langit itu juga
Yang biasa memberi hiburan barang sejenak. Terhenyak
Ketika tubuh ini loyo. Dan HP berdering terus. Pesan dan Bos
Pesan dari istri di rumah. Pesan mesra dari pacar simpanan

Atas nama siapa saja. Welas asih dan cinta satwa. Jangan —
Jangan melepas burung-burung di Jakarta. Jangan, Jangan
Kalau engkau tega. Kalau engkau tidak mau melihat di atas sana
Tubuh-tubuh berjatuhan. Tubuh-tubuh bergelimpangan

Memasuki rimba segala rimba.
Belantara Dan semak berduri kota. Keganasan dan kelewang menghadang
Bergumul manusia dan satwa. Atau Sahara jiwa
Mondar-mandir manusia batu!


Jakarta 15-16 November 1997

Sumber: Gergaji (2001)

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Jangan
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Dongeng JakartaDari JakartaSorga tak jauh lagiBegitu petuahSi tua dalam kitab tak bernamaTapi sebelumTiba kau di sanaAda sebuah simpanganYang mirip nirwanaMenggodamu dengan bayanga…
  • Mudik ke Jakartaada keluarga betawimudik ke jakartagangnya juga berubahtanah kosong dekat rumahtertutup apartemen megah“kok kamu kurusan” sahutku“panas dan asap” jawabnyalho kok, a…
  • Jakarta Semakin dekat ke pesisir, semakin rapat bangunan danau ditimbun, tapi pantai diolor, - air sumur surut saat penghujan tiba, kot…
  • Jangan Atas nama apa saja. Jangan melepas burung-burung di Jakarta. Jangan melepas burung-burung di angkasa Jangan! Janganlah nyawa satwa ditebar di udara Yang ge…
  • Penumpang Kumal dari Jakarta Kita turun dari kereta menyambut berita duka kematian ayah dan ibu kita kita kisahkan nanti kesan-kesan dari rantauan kita sodorkan ce…
  • Dari JakartaKau minta aku bersabarSeperti kau sendiri masih bertahanDalam goncangan seribu bis kotaNeraka dari halte ke halteKau bujuk aku tertawaMelewati tahun-tahun celakaRibuan …
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.