Puisi: Solitude (Karya Catur Stanis)

Puisi "Solitude" karya Catur Stanis menggambarkan kesendirian dan perasaan yang dalam terhadap kehidupan dan waktu.
Solitude

awan gulita menatap lidah langit
saat kau hempas diri di tilam duri
luka tersayat menetes aroma sangit
menduga mendung menyiang sangsi
:benarkah ini bukan mimpi
lalu gerimis memecah mata
pada bulan yang berkaca-kaca
kelu beku rindumu sendu
merajam gigir sembilu
:adakah waktu kan kembali
saat tanya tak lagi punya arti
saat musim pun berganti hari
merenda sepi menatah sunyi
sampai mati.

2011

Analisis Puisi:

Puisi "Solitude" karya Catur Stanis adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan kesendirian dan perasaan yang dalam terhadap kehidupan dan waktu. Dengan menggunakan bahasa yang puitis dan gambaran alam yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merasakan kesunyian dan refleksi yang dialami oleh penyair.

Tema Utama

Tema utama dalam puisi ini adalah kesendirian (solitude) dan refleksi tentang kehidupan dan waktu. Penyair menghadapi momen-momen yang penuh dengan introspeksi dan pertanyaan tentang eksistensi dan arti hidupnya.

Struktur dan Bahasa

Puisi ini memiliki struktur yang pendek namun padat dengan kalimat-kalimat yang singkat namun sarat dengan makna. Gaya bahasa yang digunakan menciptakan gambaran yang intens dan mengundang pembaca untuk merenung bersama penyair.
  • Gambaran Alam: Penggunaan gambaran alam seperti "awan gulita," "gerimis," dan "bulan yang berkaca-kaca" memberikan latar belakang yang kuat dan atmosferik. Hal ini tidak hanya menciptakan suasana, tetapi juga melambangkan keadaan emosional penyair.
  • Pertanyaan dan Refleksi: Puisi ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menggambarkan kebingungan dan pencarian makna dalam kehidupan. Misalnya, pertanyaan "benarkah ini bukan mimpi?" mencerminkan ketidakpastian penyair terhadap realitas yang dihadapinya.

Perasaan dan Emosi

Puisi ini menggambarkan perasaan kesendirian yang mendalam dan perenungan yang tajam tentang waktu dan eksistensi. Kata-kata seperti "luka tersayat menetes aroma sangit" dan "merajam gigir sembilu" menggambarkan kesedihan dan penderitaan yang dirasakan oleh penyair.

Puisi "Solitude" karya Catur Stanis adalah sebuah puisi yang mengundang pembaca untuk merenung tentang kehidupan, waktu, dan kesendirian. Dengan menggunakan gambaran alam yang kuat dan pertanyaan filosofis yang dalam, puisi ini berhasil mengeksplorasi tema-tema yang universal dan mendalam. Pembaca dihadapkan pada perasaan introspeksi dan refleksi yang kuat, membuatnya mempertanyakan dan merenungkan makna dari kesendirian dan eksistensi manusia.

Catur Stanis
Puisi: Solitude
Karya: Catur Stanis

Biodata Catur Stanis:
  • Catur Stanis lahir dengan nama Catur Nugroho pada tahun 1969 di Ngampilan, Yogyakarta. 
  • Catur Stanis meninggal dunia pada tanggal 9 April 2015

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Puisi Apa Jadinya apa jadinya sebuah negeri bila nalar kritis dibabat habis atas nama kesopanan dan etika melembagakan senioritas belaka apa gunanya senioritas …
  • Pintaku Kalau kau minta seribu tahun lagi ku minta abadi tiada henti kalau kau bilang sekali berarti sesudah itu mati ku bilang sekali berarti sesudah itu coba lag…
  • Sunyi Tak Sepi Sepi bisa mengoyakmu sampai mati namun sunyi menjahitnya menjadi utuh lagi sepi melukaimu dengan rasa nyeri namun sunyi menebarkan damai tak terperi…
  • Amsal Mati Muda Terceritakan padaku kisah penyair mati tragis lantaran dicabik sipilis nan tak kunjung habis menghajar raganya hingga tipis borok menganga menguar nanah di …
  • Serenada Sulfatara Tataplah matamu ke utara tempat dimana sang raksasa mendendangkan nyanyian sulfatara menyungging senyum erupsi menjulurkan lidah lava Raksasa …
  • Erupsi (1) menggamit lengan merapi dalam erupsi padat berisi aku ditelikung cemas yang menggigilkan nyeri lukaluka yang menganga disetiap lekuk ceruknya adalah pen…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.