Puisi: Solilokui (Karya Fitri Yani)

Puisi "Solilokui" karya Fitri Yani menggambarkan keadaan seseorang yang terjebak dalam rutinitas dan kecemasan dalam hidupnya.
Solilokui


entah sejak kapan kau gugup menghadapi kenyataan
pagi yang kaku menindih tubuhmu 
di sela-sela jadwal keberangkatan 
yang tak pernah berbeda, tak pernah berubah

teman dan kekasih memudar di ujung cakrawala
seperti pekarangan yang sendiri pukul sembilan pagi
tak ada lagi bagimu ruang untuk mengingat masa silam
dan tempat-tempat yang sudah kau tinggalkan

kau hirup cerita-cerita seperti menghisap debu
tubuhmu kumpulan debu
matamu guguran rindu yang layu 
di beranda rumahmu

siang hari memanas di ubun-ubun
keramaian berpendar di kepalamu 
yang terus menerus mendambakan keheningan

malam tergesa datang
kau menarik nafas berat di tempat tidur 
dengan cucuran peluh dan mimpi buruk
dadamu dihinggapi kecemasan-kecemasan 
seperti kabut pada rumput di kaki pegunungan

hidupmu disibukkan oleh benda-benda
yang setiap saat berganti rupa
keheningan cuma hujan
cuma genangan yang cepat lesap.


Maret, 2013

Sumber: Lampung Post (edisi 21 April 2013)

Analisis Puisi:
Puisi "Solilokui" karya Fitri Yani merupakan sebuah karya sastra yang menggambarkan keadaan seseorang yang terjebak dalam rutinitas dan kecemasan dalam hidupnya. Puisi ini menggunakan bahasa dan gambaran-gambaran yang kuat untuk menyampaikan pesan-pesan mendalam.

Kebosanan dalam Rutinitas: Puisi ini menggambarkan perasaan kebosanan dan keterpautan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Kata-kata seperti "jadwal keberangkatan yang tak pernah berbeda, tak pernah berubah" menciptakan citra tentang monotonnya kehidupan.

Kehilangan Jejak Masa Lalu: Puisi ini menggambarkan kehilangan jejak masa lalu dan orang-orang yang pernah ada dalam hidupnya. Teman dan kekasih telah memudar dari ingatan, menciptakan perasaan kehampaan dan kesendirian.

Kebutuhan Akan Keheningan: Puisi ini mengungkapkan kebutuhan akan keheningan dan ketenangan dalam hidup yang penuh dengan keramaian dan kecemasan. Kata-kata seperti "mengendap di kepalamu yang terus menerus mendambakan keheningan" menciptakan kontras yang kuat dengan keadaan sekitar yang bising dan sibuk.

Perubahan dalam Kehidupan: Puisi ini mencerminkan perubahan-perubahan dalam hidup yang cepat dan terus menerus. Kata-kata seperti "benda-benda yang setiap saat berganti rupa" menggambarkan bagaimana perubahan dapat mengganggu stabilitas.

Kecemasan dan Keheningan: Puisi ini mengeksplorasi tema kecemasan dan kegelisahan yang terus menerus menghantui pikiran karakter. Kecemasan tersebut menciptakan perasaan ketidaknyamanan dan ketidakpastian yang mengganggu kedamaian.

Kehilangan Koneksi dengan Alam: Puisi ini menciptakan perasaan kehilangan koneksi dengan alam dan keindahan alam. Gambaran tentang "genangan yang cepat lesap" mencerminkan perasaan bahwa bahkan momen-momen indah sekalipun cepat berlalu dalam hidup yang sibuk.

Puisi "Solilokui" menggambarkan pengalaman seorang individu yang terjebak dalam rutinitas dan kecemasan hidupnya. Dengan penggunaan bahasa yang kuat dan gambaran-gambaran yang intens, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tantangan dan perubahan dalam kehidupan manusia serta kebutuhan akan keheningan dan ketenangan dalam keadaan yang penuh dengan keramaian dan ketidakpastian.

Fitri Yani
Puisi: Solilokui
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Solilokui entah sejak kapan kau gugup menghadapi kenyataan pagi yang kaku menindih tubuhmu  di sela-sela jadwal keberangkatan  yang tak pernah berbeda, t…
  • Penyair dan Gembala angin bergerak menghampiri gembala yang membaca sajak-sajak sepi di sepanjang halaman hari. ia melihat warna hijau di situ tapi bukan hamparan pad…
  • Rumah Matahari mengapa begitu asing rumah padahal telah kugantung lukisan matahari di ruang tamu agar kau selalu menatap harapan yang menyala kuletakkan arloji di…
  • Malam di Jalan Ali Pitchay keramaian yang menarikku dalam alam bahasa yang sukar kuterka ketika kudatangi kotamu, akan menjadi satu-satunya ingatan yang membuat dunia, bagiku, …
  • Sebuah Pengakuan benar, bahwa aku yang lebih dulu menggodamu di bawah pohon itu. sebab kau musafir kelaparan yang hampir mati berperang melawan cuaca. dadamu berluban…
  • Penggali Sumur ia menggali sumur, katanya ia ingin meminum air murni itu. aku senang sekaligus berduka. karena musim sedang kemarau. ia percaya bahwa sumur di mata tak…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.