Sumber: Lampung Post (edisi 28 Juli 2013)
Analisis Puisi:
Puisi "Potret Musim Panas" karya Fitri Yani menyajikan gambaran suasana musim panas yang berbeda, menunjukkan sisi suram dan kesunyian di tengah keadaan yang seharusnya cerah.
Representasi Tua dan Layu Musim Panas: Penyair menggambarkan musim panas yang sudah menua dengan pohon-pohon yang kurus, parau, dan layu. Ini adalah metafora dari musim panas yang kehilangan keceriaan dan kehidupan, yang tampak terasa melalui gambaran pohon yang kurus dan layu.
Kesunyian dan Kegelapan: Gambaran perempuan di rumah bordil yang berdansa, namun diselingi dengan kehampaan dan kekeringan dari mata yang tak lagi mengalirkan kebahagiaan atau keceriaan. Hal ini menciptakan suasana kesunyian dan kekosongan di tengah hingar-bingar aktivitas yang seharusnya ceria.
Kekantukan dan Kesepian: Pagi hari yang hilang dalam rasa kantuk menunjukkan ketidakmampuan untuk menghidupkan keceriaan dan semangat di saat awal hari. Matahari yang bersinar lambat menandakan suasana yang suram, yang mungkin tak begitu membangkitkan semangat hidup.
Potret Cuaca yang Tetap Ada: Penyair menyampaikan bahwa meskipun embun menghilang tanpa tanda, potret cuaca yang suram, kesunyian, dan kekosongan akan tetap ada, menegaskan suasana suram musim panas yang telah kehilangan kehangatan dan keceriaannya.
Puisi ini adalah sebuah refleksi tentang musim panas yang telah menua, kering, dan suram, yang tidak lagi memancarkan semangat dan kehidupan. Dengan gambaran pohon-pohon yang layu, perempuan berdansa dalam kesunyian, serta kesepian yang menghiasi suasana, Fitri Yani menciptakan potret yang penuh dengan nada kekecewaan dan suram.
Karya: Fitri Yani
Biodata Fitri Yani:
- Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.tanpa tanda apa-apa