Puisi: Pintaku (Karya Catur Stanis)

Puisi "Pintaku" karya Catur Stanis mengeksplorasi tema tentang keabadian dalam hubungan dan perasaan. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana namun ..
Pintaku

Kalau kau minta seribu tahun lagi
ku minta abadi tiada henti
kalau kau bilang sekali berarti sesudah itu mati
ku bilang sekali berarti sesudah itu coba lagi

tak ada yang harus selesai
dan memang seharusnya
tak perlu ada kata selesai
agar rindupun tak kunjung usai.

2012

Analisis Puisi:

Puisi "Pintaku" karya Catur Stanis mengeksplorasi tema tentang keabadian dalam hubungan dan perasaan. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana namun penuh dengan makna filosofis, Stanis menghadirkan suatu refleksi tentang keinginan akan ketidakberhentian dan kekekalan dalam cinta serta hubungan manusia.

Tema Keabadian dan Kekuatan Kata

Puisi ini dimulai dengan sebuah permintaan yang menggambarkan keinginan untuk keabadian: "Kalau kau minta seribu tahun lagi / ku minta abadi tiada henti." Permintaan ini tidak hanya merujuk pada panjangnya waktu, tetapi lebih pada kekuatan dan kekalahan dari perasaan cinta yang sejati.

Kontras antara "Sekali" dan "Coba Lagi"

Puisi ini menunjukkan kontras yang menarik antara pemahaman akan waktu dan kehidupan: "kalau kau bilang sekali berarti sesudah itu mati / ku bilang sekali berarti sesudah itu coba lagi." Di sini, "sekali" dapat dimaknai sebagai titik akhir atau penyelesaian, sementara "coba lagi" menunjukkan keinginan untuk terus mencoba dan berjuang meskipun menghadapi kegagalan.

Penolakan terhadap Keterbatasan Waktu

Puisi ini mengeksplorasi gagasan bahwa tidak ada yang harus berakhir secara definitif. Kata "tak ada yang harus selesai / dan memang seharusnya" menunjukkan sikap penolakan terhadap konsep akhir dan kepastian dalam hubungan dan perasaan. Ini juga menggarisbawahi keinginan agar rindu dan cinta tetap hidup dan tak kunjung usai.

Bahasa yang Sederhana namun Bermakna

Catur Stanis menggunakan bahasa yang sederhana namun padat dengan makna filosofis. Pilihan kata-katanya seperti "seribu tahun lagi", "abadi tiada henti", "sekali", dan "coba lagi" tidak hanya menggambarkan perasaan cinta yang mendalam, tetapi juga menyampaikan refleksi tentang arti kehidupan dan waktu.

Puisi "Pintaku" karya Catur Stanis mengajak pembaca untuk merenungkan tentang keabadian dalam hubungan dan perasaan manusia. Puisi ini tidak hanya sebuah ungkapan perasaan cinta yang mendalam, tetapi juga sebuah refleksi tentang keinginan manusia untuk melawan keterbatasan waktu dan mempertahankan rindu yang abadi.

Dengan demikian, puisi "Pintaku" tidak hanya menjadi sebuah puisi tentang cinta, tetapi juga sebuah pernyataan tentang keinginan akan keabadian dan ketidakberhentian dalam hubungan manusia.

Catur Stanis
Puisi: Pintaku
Karya: Catur Stanis

Biodata Catur Stanis:
  • Catur Stanis lahir dengan nama Catur Nugroho pada tahun 1969 di Ngampilan, Yogyakarta. 
  • Catur Stanis meninggal dunia pada tanggal 9 April 2015

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Batu-Buta-Tabu-Tuba Batu itu terlempar di mataku butalah aku gara-gara permainan tabu yang menjadi tuba dalam hidupku. 2012Analisis Puisi:Puisi "Batu-Buta-Tabu-T…
  • Bisa Jadi bisa jadi akulah penyair salon dengan secawan anggur di tangan ku pinang rembulan dalam dekapan bukan ku tak ingin mencatat gelisah jaman yang menggel…
  • Sadness Part Six : bagi ira sasmita hari ini tepat sepuluh purnama berjalan dalam gumam saat kutinggalkan kota kita pada malam basah yang diam diam-diam kini ku kemb…
  • Solitude awan gulita menatap lidah langit saat kau hempas diri di tilam duri luka tersayat menetes aroma sangit menduga mendung menyiang sangsi :benarkah ini bukan mimpi l…
  • Kupu-Kupu kupu-kupu itu selalu menjelma dirimu dalam rupa yang beraneka menjerat mata untuk menatapnya aku tak ingin tanya terhenti namun pertanyaan itu kembali melemparku…
  • Haiku 12 Purnama Januari menggigil dalam bekap beku rembulan yang memanggil waktu hujan rindu membatu diluruhkan Februari pipi rembulan merona merah jambu meny…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.