Puisi: Selat Lombok, Oktober (Karya Sindu Putra)

Puisi "Selat Lombok, Oktober" karya Sindu Putra mengundang pembaca untuk merenung tentang perjalanan hidup, penderitaan, dan transformasi menuju ...
Selat Lombok, Oktober

100 mil laut dari Lembar
dalam ferry yang mengapung
perempuan dengan luka ketam
di punggung tangannya
menunjukkan arah padaku

disinilah mata air di tanam,
isaknya

setelah bunga karang
setelah api ombak
mata airlah yang sehangat subuh

di tempat basah ini,
mata air disembunyikan
kau dengar,
kupu-kupu hinggap di ujung wanginya
menunggu gerhana,
hingga cahaya merembes

di pusaran ini pun,
air mata tumpah
air mata gelap
menjadi laut

lalu aku, kau,
kupu-kupu dengan sayap terbakar
belalang padang pasir bawah laut
dan ikan-ikan sepanjang musim kawinnya
akan senantiasa menyeberangi puncaknya
yang paling dalam. yang paling terang.

2017

Analisis Puisi:

Puisi "Selat Lombok, Oktober" karya Sindu Putra adalah sebuah karya sastra yang mendalam dan sarat dengan makna. Dalam analisis ini, kita akan menyelami berbagai aspek dari puisi ini, termasuk tema, imaji, struktur, dan makna.

Tema: Tema utama dalam puisi ini tampaknya berkisar pada perjalanan melalui pengalaman emosional yang penuh dengan konflik dan transformasi. Puisi ini menggambarkan perjalanan melalui kesedihan, ketidakpastian, dan kegelapan menuju pencerahan dan pemahaman diri.

Imaji dan Bahasa: Penyair menggunakan imaji alam dan elemen-elemen laut untuk menggambarkan perasaan dan pengalaman yang mendalam. Misalnya, gambaran "mata air di tanam" dan "bunga karang" menciptakan suasana alam yang tenang namun penuh dengan misteri. Bahasa yang digunakan juga sangat deskriptif dan emosional, mengundang pembaca untuk merenung dan merasakan pengalaman yang digambarkan.

Struktur: Puisi ini terdiri dari beberapa bait yang pendek namun padat makna. Strukturnya terorganisir dengan baik, dengan setiap bait membangun perasaan dan atmosfer yang diperlukan untuk menyampaikan pesan puisi secara keseluruhan.

Makna: Puisi ini bisa diinterpretasikan sebagai perjalanan menuju pencerahan dan pemahaman diri melalui pengalaman-pengalaman yang sulit dan penuh konflik. Penggunaan imaji laut dan alam menggambarkan perjalanan ini sebagai sesuatu yang alami dan fundamental bagi kehidupan manusia.

Bait terakhir puisi ini menggambarkan kesinambungan perjalanan, di mana "kupu-kupu dengan sayap terbakar", "belalang padang pasir bawah laut", dan "ikan-ikan sepanjang musim kawinnya" menjadi simbol kehidupan yang terus bergerak maju meskipun dihadapkan pada rintangan dan perubahan.

Secara keseluruhan, puisi "Selat Lombok, Oktober" karya Sindu Putra adalah sebuah karya sastra yang mengundang pembaca untuk merenung tentang perjalanan hidup, penderitaan, dan transformasi menuju pencerahan dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.

Puisi
Puisi: Selat Lombok, Oktober
Karya: Sindu Putra
© Sepenuhnya. All rights reserved.