Analisis Puisi:
Puisi "Dongeng" karya Gunoto Saparie membawa pembaca ke dalam dunia mitos dan cerita rakyat, dengan melibatkan elemen-elemen yang sarat makna.
Lokasi dan Waktu yang Menyatu dengan Mitos: Puisi ini dibuka dengan suasana malam bulan purnama, menghadirkan aura magis dan mistis yang khas dalam dongeng dan mitos Jawa. Candi Prambanan dan gunung Mangliawan menjadi latar tempat yang memperkaya nuansa kisah.
Cinta yang Abadi: Sentuhan cinta abadi antara Rama dan Sinta, yang diperlihatkan dalam candi Prambanan, menciptakan atmosfer romantisme yang melibatkan unsur-unsur mitologis. Kehadiran cinta ini memberikan dimensi keindahan tersendiri dalam dongeng ini.
Keterlibatan Karakter Mitologi: Karakter mitologi seperti Hanoman dan kera-kera yang mengusung batu-batu dari gunung Mangliawan ke pantai Ceylon membawa nuansa epik ke dalam puisi. Mereka menjadi pemain penting dalam "Dongeng," mengaitkan puisi dengan kisah-kisah Ramayana yang kaya akan makna moral dan mitologi.
Peperangan dan Makna Filosofis: Pertanyaan mengenai makna sebenarnya dari peperangan, selain untuk kekuasaan dan nafsu, menghadirkan aspek filosofis. Puisi merenungkan tentang makna dari perang, memprovokasi pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang motif di balik konflik.
Alengkadiraja dan Rahwana sebagai Metafora: Transformasi Alengkadiraja menjadi karang abang dan kebijaksanaan Rahwana yang memahami skenario para dewa memberikan dimensi filosofis lebih lanjut. Mereka dapat diartikan sebagai metafora dari perubahan dan pemahaman atas kehidupan dan takdir.
Kesetiaan dan Sinta Obong: Penyebutan kesetiaan yang mungkin hanya "omong kosong" dan Sinta Obong sebagai "dongeng purba" memberikan sentuhan ironi terhadap nilai-nilai mitos dan legenda. Ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna sejati dari nilai-nilai moral yang seringkali diwariskan melalui cerita rakyat.
Puisi "Dongeng" adalah perpaduan harmonis antara mitos, cinta, dan filosofi. Dengan meretas batas antara dunia nyata dan dunia mitologi, Gunoto Saparie menciptakan sebuah karya yang mempesona dan memperkaya pemahaman pembaca tentang kehidupan dan kebijaksanaan yang terkandung dalam dongeng-dongeng purba.
Karya: Gunoto Saparie
Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.