Puisi: Dada (Karya Afrizal Malna)

Puisi "Dada" karya Afrizal Malna menggambarkan refleksi tentang waktu, eksistensi manusia, dan aktivitas membaca serta menulis.
Dada

Sehari. Waktu sama sekali tak ada, Dada. Bumi 
terbaring dalam tangan yang tidur. Ingin jadi manusia
terbakar dalam mimpi sendiri. Sehari. Semua terbaring 
dalam waktu tak ada. Membaca, Dada. Membaca kenapa 
harus membaca, bagaimana harus dibaca. Orang-orang 
terbaring dalam tubuhnya sendiri, orang-orang terbaring
 
dalam pikirannya sendiri. Mengaji, Dada. Mengaji.
 
Keinginan jadi manusia, menulis dan membaca di tangan 
sendiri.

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, Dada. Hanya
 hidup, hanya hidup membaca dirinya sendiri; seperti
 
anak-anak membaca, seperti anak-anak bertanya.
 
Menulis, Dada. Menulis kenapa harus menulis,
 
bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari
 
setiap yang bergerak, Dada; seperti menakuti setiap yang
 
dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca jadi mengapa
 
membaca, menulis jadi mengapa menulis.

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
 Dada. Sehari.

1983

Sumber: Abad yang Berlari (1984)

Catatan:
Puisi ini pernah muncul di Majalah Horison edisi Mei 1984.

Analisis Puisi:

Puisi "Dada" karya Afrizal Malna adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi tentang waktu, eksistensi manusia, dan aktivitas membaca serta menulis. Dengan gaya yang eksperimental dan introspektif, Malna mengajak pembaca untuk merenungkan tentang esensi kehidupan dan kegiatan kreatif.

Tema Utama

  • Waktu dan Eksistensi: Puisi ini membahas tentang waktu yang relatif dan bagaimana manusia berada di dalamnya. Konsep "sehari" yang diulang-ulang memberikan kesan waktu yang berlalu tanpa kepastian, mungkin mengeksplorasi perasaan kehampaan atau kebingungan terhadap waktu dalam kehidupan sehari-hari.
  • Membaca dan Menulis: Aktivitas membaca dan menulis menjadi tema sentral dalam puisi ini. Malna menggambarkan betapa pentingnya aktivitas intelektual ini dalam menjelajahi dan memahami diri serta dunia sekitar. Membaca dan menulis tidak hanya sebagai tindakan fisik, tetapi juga sebagai cara untuk menjelajahi eksistensi dan menemukan makna.
  • Keinginan Menjadi Manusia: Pengulangan frase "keinginan jadi manusia" memberikan kesan ironis atau mungkin refleksi mendalam tentang apa artinya menjadi manusia dalam konteks yang penuh dengan rutinitas dan pertanyaan eksistensial.

Gaya Bahasa dan Imaji

  • Eksperimental dan Introspektif: Malna menggunakan bahasa yang eksperimental dan kadang-kadang ambigu untuk menciptakan nuansa introspeksi yang mendalam. Penggunaan pengulangan dan frasa-frasa yang bermakna ganda memberikan ruang bagi interpretasi yang berbeda-beda oleh pembaca.
  • Imaji-Imaji Metaforis: Meskipun tidak secara eksplisit deskriptif, puisi ini memanfaatkan imaji-imaji yang mungkin lebih metaforis dalam merangkai gambaran tentang waktu, kehidupan sehari-hari, dan proses kreatif.

Emosi dan Makna

Puisi "Dada" mengundang pembaca untuk mempertanyakan arti dari aktivitas sehari-hari yang mungkin terasa rutin, namun memiliki kedalaman dalam pengaruhnya terhadap eksistensi manusia. Dengan menyoroti membaca, menulis, dan keinginan untuk menjadi manusia, Malna mendorong refleksi mendalam tentang arti hidup dan pencarian makna di dalamnya.

Puisi "Dada" karya Afrizal Malna adalah karya yang mengajak pembaca untuk merenungkan tentang waktu, eksistensi, dan aktivitas kreatif manusia. Dengan gaya bahasa yang eksperimental dan pemilihan kata yang mendalam, Malna menciptakan sebuah narasi introspektif yang menantang dan menggugah. Puisi ini tidak hanya menghadirkan pengalaman membaca, tetapi juga menawarkan lapisan-lapisan makna yang dapat dijelajahi dan direnungkan oleh pembaca secara pribadi.

Puisi Afrizal Malna
Puisi: Dada
Karya: Afrizal Malna

Biodata Afrizal Malna:
  • Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.

Anda mungkin menyukai postingan ini

© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.