Sumber: Bulan Tertusuk Lalang (1982)
Analisis Puisi:
Puisi "Nagasari" karya D. Zawawi Imron menawarkan sebuah interpretasi yang mendalam dan simbolis tentang makna dan representasi dari sebuah objek sederhana, yaitu kulit nagasari. Melalui puisi ini, Zawawi mengajak pembaca untuk merenungkan tema kematian, pengorbanan, dan transformasi melalui metafora yang kuat dan imajinatif.
Tema dan Makna
- Simbolisme dan Metafora: Puisi ini memanfaatkan kulit nagasari, yang secara tradisional adalah sebuah kue yang terbuat dari pisang, sebagai metafora untuk sesuatu yang jauh lebih gelap dan mendalam. Dalam puisi ini, "kulit nagasari" bukanlah pisang madu, melainkan "mayat anak gembala" yang menggambarkan kematian dan kehilangan. Penggunaan mayat anak gembala yang "berseruling setiap senja" memperkuat tema kesedihan dan ketidakberdayaan, dengan seruling sebagai simbol kenangan dan rasa sakit.
- Transformasi dan Penggunaan Kembali: Membuang kulit nagasari dan tindakan nakhoda yang memungutnya untuk digunakan sebagai peta dan bendera kapal mengilustrasikan proses transformasi dan pemanfaatan kembali. Kulit nagasari yang awalnya menjadi simbol kematian dan kesedihan, diubah menjadi sesuatu yang berguna dalam konteks perjalanan dan eksplorasi. Ini menggambarkan bagaimana elemen dari masa lalu atau tragedi bisa diubah menjadi alat untuk navigasi dan identitas dalam perjalanan hidup.
- Kemampuan untuk Mengatasi Kesedihan: Puisi ini juga menyoroti bagaimana manusia dapat menghadapi dan mengatasi kesedihan melalui pengubahan makna dari tragedi menjadi sesuatu yang produktif. Dengan merobek kulit nagasari menjadi peta dan bendera, nakhoda menggunakan kesedihan dan kehilangan sebagai alat untuk melanjutkan perjalanan dan mencapai tujuan baru.
Gaya Bahasa dan Teknik Puitis
- Imaji dan Metafora: Zawawi menggunakan imaji yang kuat untuk menggambarkan kontras antara pisang madu dan mayat anak gembala. Gambar kulit nagasari yang "bukan pisang madu" tetapi mayat memberikan kesan mendalam tentang perubahan makna dan representasi. Imaji ini menciptakan dampak emosional yang kuat pada pembaca, memaksa mereka untuk merenungkan makna di balik objek yang tampaknya sederhana.
- Struktur dan Ritme: Puisi ini memiliki struktur yang sederhana namun efektif dalam menyampaikan pesan yang kompleks. Penggunaan struktur yang singkat dan langsung menyoroti kontras antara elemen yang berbeda dalam puisi. Ritme yang konsisten dan penggunaan bahasa yang langsung memperkuat pesan dan tema puisi, menjadikannya mudah diingat dan mengena.
- Simbolisme dan Kontras: Penggunaan simbolisme dalam puisi ini, seperti kulit nagasari, peta, dan bendera, memberikan dimensi tambahan pada makna puisi. Kontras antara elemen-elemen ini, seperti kematian dan navigasi, menciptakan lapisan makna yang memperdalam pemahaman pembaca tentang tema puisi.
Puisi "Nagasari" karya D. Zawawi Imron adalah karya yang mendalam dan simbolis yang mengeksplorasi tema kematian, transformasi, dan penggunaan kembali melalui metafora yang kuat. Dengan menggambarkan kulit nagasari sebagai simbol kematian dan kehilangan, serta mengubahnya menjadi peta dan bendera, Zawawi menggambarkan bagaimana elemen dari tragedi dapat diubah menjadi alat untuk navigasi dan identitas dalam perjalanan hidup. Melalui penggunaan imaji yang kuat, struktur yang efektif, dan simbolisme yang mendalam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna di balik objek sederhana dan bagaimana kita dapat mengatasi kesedihan dengan menciptakan makna baru dari pengalaman tersebut.

Puisi: Nagasari
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.