Puisi: Sajak buat Kau (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi "Sajak buat Kau" karya D. Zawawi Imron merenungkan bagaimana hubungan intim membentuk dan mendefinisikan diri kita.
Sajak buat Kau

Di sinilah hujan itu menggali jurang
yang membuat kau adalah kau
dan aku adalah aku.

Di balik rumpun bunga
mata Sartre tajam padaku.

Sehabis bersetubuh denganmu
sadarlah aku,
bahwa telah kubangun adamu
dan telah kaubangun adaku,

sebab tanpa kau
aku hanyalah batu.

Sesudah itu
kepastian menumbuhkan pohon-pohon berkabut
dan ludahmu yang tak kusengaja tertelan masuk perutku
akan kekal bersama rohku.

1978

Sumber: Bulan Tertusuk Lalang (1982)

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak buat Kau" karya D. Zawawi Imron adalah sebuah karya puitis yang menyelami kedalaman hubungan antara individu dan konsep diri dalam konteks intim dan eksistensial. Melalui penggunaan imaji yang kuat dan eksplorasi tema tentang identitas dan hubungan, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana interaksi dengan orang lain membentuk dan mendefinisikan diri kita.

Tema dan Makna

  • Eksplorasi Identitas: Puisi ini menyoroti tema identitas dan hubungan melalui gambaran hujan yang menggali jurang. Hujan di sini berfungsi sebagai metafora untuk proses yang memisahkan dan sekaligus menghubungkan dua individu—dalam hal ini, "kau" dan "aku." Proses ini menjadikan masing-masing individu lebih jelas dalam identitasnya, memperjelas bahwa "kau adalah kau" dan "aku adalah aku." Ini mencerminkan bagaimana hubungan intim dapat mengungkapkan dan membentuk identitas pribadi.
  • Keterhubungan dan Pembentukan Diri: Puisi ini menyiratkan bahwa dalam hubungan yang intim, seperti bersetubuh, individu membangun dan mendefinisikan diri mereka melalui interaksi dengan orang lain. "Telah kubangun adamu dan telah kaubangun adaku" menunjukkan bagaimana identitas seseorang dapat dibentuk dan dipengaruhi oleh hubungan dengan orang lain. Tanpa kehadiran "kau," "aku hanyalah batu," yang mengartikan bahwa tanpa hubungan tersebut, identitas seseorang mungkin terasa tidak hidup atau kosong.
  • Kekekalan dan Kenangan: Setelah hubungan intim, puisi menyiratkan bahwa pengalaman dan kenangan—seperti "ludahmu yang tak kusengaja tertelan"—akan tetap bersama dengan roh penulis. Ini menekankan kekekalan dari kenangan dan dampak hubungan tersebut terhadap kehidupan dan identitas seseorang. Bahkan elemen kecil dan mungkin tidak disadari dari hubungan dapat meninggalkan jejak yang mendalam dan abadi dalam diri seseorang.

Gaya Bahasa dan Teknik Puitis

  • Imaji dan Simbolisme: Zawawi menggunakan imaji yang kuat untuk menciptakan suasana dan makna dalam puisi. Hujan yang menggali jurang melambangkan proses pemisahan dan pembentukan identitas, sedangkan "mata Sartre" menambahkan dimensi filosofis dengan merujuk pada pemikiran eksistensialis Jean-Paul Sartre tentang keberadaan dan kesadaran. Imaji ini menciptakan konteks yang mendalam untuk merenungkan tema identitas dan hubungan.
  • Bahasa dan Struktur: Bahasa yang digunakan dalam puisi ini bersifat langsung namun penuh makna. Struktur puisi yang bebas dan puitis memungkinkan eksplorasi bebas dari tema dan makna, mencerminkan kompleksitas dan kedalaman hubungan manusia. Penggunaan bahasa yang lugas namun puitis memperkuat pesan dan tema puisi, menjadikannya resonan dan mudah diingat.
  • Filosofi Eksistensial: Referensi kepada "mata Sartre" menambahkan dimensi filosofi eksistensial pada puisi ini. Ini mengundang pembaca untuk merenungkan bagaimana hubungan dengan orang lain dan pengalaman hidup membentuk pemahaman kita tentang diri dan eksistensi. Menggunakan pemikiran Sartre, puisi ini mengeksplorasi bagaimana kesadaran diri dan identitas dipengaruhi oleh interaksi sosial dan pengalaman pribadi.
Puisi "Sajak buat Kau" karya D. Zawawi Imron adalah sebuah karya yang menggali tema identitas, hubungan, dan kekekalan kenangan melalui imaji yang kuat dan eksplorasi filosofis. Dengan menggunakan metafora hujan, referensi filosofis, dan bahasa yang mendalam, Zawawi menciptakan sebuah puisi yang merenungkan bagaimana hubungan intim membentuk dan mendefinisikan diri kita. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana pengalaman dan kenangan dalam hubungan dapat meninggalkan dampak yang mendalam dan kekal dalam kehidupan dan identitas seseorang.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Sajak buat Kau
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  • Dalam Topandalam topan sunyi bergolakmenyelamatkan simpanan waktuakhirnya ditemukansenyum semerbak di hati batusunyi tak bisa mengelakdijadikan gudang catatan lamadan laba-laba mem…
  • Di Pantai Badurlidahmu kulukis dengan getah bayang-bayangsebelum kau mulai bicaradengan ribuan pipit yang merasa garudaterimalah! mereka tak pernah berkacapada keruh airmatanya sen…
  • Darahdalam darahbernyalakah lampu?kudengar bayang-bayangmenagih senyum dari sepisepi sendiri makin menualalu aku tak tahu segalayang aku tahuhanya kiamat yang kuncup di hatipada la…
  • Lukasakit luka itu diterima sungaidibawa ke tangan kesadarantapi muara menolaklantaran laut yang sesak oleh sejarahkupilih jadi belut daripada udangnilai-nilai akan basah oleh perl…
  • Lukisanberibu warna dari bulu-bulu burung cintakukususun di lazuardi, jadilah lukisan bidadariyang datang dari surga kenangania adalah engkau, manisku!bagai burung gelatik ajaibden…
  • Hujan, Terjunlahhujan, terjunlah ke lembahmenghapus makna dalam jerit yang bisupada lubang mautkutanam kepedihan waktudari rerumput kupetik gairahmumenyala bagai gendang yang gemur…
© 2025 Sepenuhnya. All rights reserved.